TROBOS.CO – Pernahkah Anda kesulitan mengingat sesuatu? Kondisi pelupa kerap dikaitkan dengan faktor penuaan, padahal penyebabnya beragam dan bisa menyerang di usia produktif. Yang menarik, mengapa justru hafalan ayat Al-Qur’an bisa tersimpan begitu kuat dalam ingatan, bahkan setelah lama tidak dibaca?
Secara sains, pelupa bisa disebabkan oleh beberapa hal: otak yang jarang dilatih untuk belajar atau memecahkan masalah, stres atau overthinking, kurang tidur, jarang membaca, kurang bersosialisasi, dan pola makan yang tidak bergizi. Intinya, otak ibarat otot: jika tidak dilatih, ia akan melemah.
Di sinilah membaca dan mengkaji Al-Qur’an hadir sebagai solusi yang unik dan holistik. Aktivitas ini memenuhi beberapa kriteria untuk menangkal penyebab pelupa secara langsung:
1. Menguatkan Memori dengan Struktur yang Unik
Hafalan Al-Qur’an tersimpan kuat karena memiliki unsur emosional, spiritual, ritme, dan struktur bahasa yang khas. Proses menghafal dan mengulangnya adalah latihan kognitif tingkat tinggi yang memperkuat koneksi antar sel otak (neural pathways).
2. Menenangkan Hati dan Menurunkan Stres
Secara spiritual, mengingat Allah menenteramkan hati. Secara psikologis dan biologis, aktivitas ini membuat pikiran fokus, menurunkan hormon kortisol (hormon stres), serta mengaktifkan sistem saraf yang menenangkan. Akibatnya, napas dan detak jantung menjadi lebih stabil, menciptakan kondisi ideal bagi otak untuk menyimpan dan memanggil informasi.
3. Memicu Kreativitas dan Inovasi yang Etis
Hati yang tenang dan pikiran yang jernih adalah fondasi bagi kreativitas dan inovasi. Ketenangan batin yang diperoleh dari menghayati makna Al-Qur’an memberikan “ruang mental” yang lapang untuk berpikir orisinal, solutif, dan bermanfaat bagi banyak orang.
Selain pendekatan spiritual, aktivitas sosial seperti silaturahmi juga ampuh menjaga memori. Sabda Nabi tentang silaturahmi yang mendatangkan rezeki dan umur panjang kini bisa dimaknai secara luas, termasuk melalui interaksi virtual.
Bersilaturahmi—baik langsung maupun daring—merangsang otak untuk berkomunikasi, memahami konteks sosial, dan mengelola emosi. Ditambah dengan menjaga pola makan bergizi, ketiganya membentuk triad (tiga serangkai) pencegah pelupa yang bersifat fisik dan sosial.
Pada akhirnya, melawan pelupa adalah tentang mengintegrasikan latihan kognitif (membaca/menghafal), ketenangan spiritual (mengkaji makna), dan aktivitas sosial (silaturahmi). Al-Qur’an bukan hanya petunjuk hidup, tetapi juga “manual” untuk menjaga kesehatan otak dan mental seorang Muslim.
Dengan mendisiplinkan diri pada aktivitas-aktivitas yang penuh berkah ini, kita tidak hanya menangkal pelupa, tetapi juga membangun mental yang teguh, akhlak mulia, dan pikiran kreatif-inovatif—modal berharga untuk berkarya dan memberikan manfaat seluas-luasnya.
Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.









