Innalillahi, KH Fachrurrozy Tutup Usia: Qori Nasional & Mantan Kadis Kemenag yang Penuh Teladan

TROBOS.CO | JEMBER – Dunia seni baca Al-Qur’an (tilawah) Jawa Timur, khususnya Jember dan Lumajang, berduka. Tokoh dan guru tilawah, KH Muhammad Fachrurrozy, M.Hi., telah dipanggil Sang Khalik pada Sabtu pagi, 24 Januari 2026, di kediamannya di Desa Ajung, Jember, setelah dua tahun berjuang melawan penyakit komplikasi.

Almarhum bukan hanya qori profesional dan pembina Jamiyatul Qurro’ wal Huffadz (Jamqur) tingkat nasional, tetapi juga seorang birokrat yang pernah memimpin Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di empat wilayah berbeda: Probolinggo, Jember, Kota Kediri, dan Lumajang.

banner 1142x1600

Ketertarikan pada qiroah telah dimulai sejak kecil di Pamekasan, Madura. Fachrurrozy kecil langsung menunjukkan bakat, meraih juara MTQ tingkat Jawa Timur pada 1973 dan 1975, yang mengantarnya ke MTQ Nasional di Palembang.

Meski pendidikannya ditempuh di sekolah umum hingga meraih gelar Magister Hukum Islam (M.Hi), kecintaannya pada Al-Qur’an tak pernah luntur. Karir birokrasinya cemerlang, bahkan sempat nyaris diangkat menjadi Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur. “Beruntung gagal, sehingga terhindar dari operasi KPK yang membawa korban petinggi kanwil Jatim saat itu,” tulis dalam riwayat hidupnya, menegaskan prinsip kehati-hatiannya.

Di mata murid-murid dan rekan qori, almarhum dikenal sebagai guru yang ulet, telaten, dan penuh motivasi. Ia tidak pernah membeda-bedakan strata sosial. “Diundang untuk membaca di rumah orang terpandang, kaum miskin, hingga di pucuk gunung diusahakan bisa datang, dan tampil prima,” tulis shodiq Syarif, penulis biografinya.

Di tengah kesibukannya, ia juga mendirikan dan mengurus Ma’had Dirosatil Quraniyah (MADIQ) Riyadhul Qori’in di dekat rumahnya, sebagai wujud komitmennya untuk mencetak generasi penghafal dan pembaca Al-Qur’an.

Kehidupan pribadinya adalah bukti nyata keberkahan Al-Qur’an. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jember sebagai mahasiswa pada 1982, ia hanya membawa bekal pas-pasan, bahkan sempat numpang tidur di Masjid Baitul Amien dan menggadaikan kalung untuk biaya registrasi kuliah.

Honor dari mengajar qiroah dan hadiah MTQ ia tabung dengan disiplin. Sebuah kisah mengharukan terjadi saat ia membina tim MTQ Maluku. Uang saku yang ia terima jauh melampaui perkiraan. Dengan rezeki tak terduga itu, ia langsung mendaftarkan haji untuk ibundanya, mewujudkan mimpi lama sang ibu. Rumah yang ditempati keluarganya pun dibeli dengan kemudahan yang ia yakini sebagai bagian dari karunia-Nya.

Bagi KH Fachrurrozy, setiap undangan membaca Al-Qur’an harus dijalani dengan ikhlas, tanpa memandang status sosial dan tanpa berharap imbalan duniawi. Prinsip hidupnya yang jujur dan tulus dalam mengemban amanah, baik sebagai abdi negara maupun guru tilawah, menjadi warisan berharga.

Kini, sang guru, sahabat, dan teladan telah berpulang. Selamat jalan, KH Muhammad Fachrurrozy. Semoga amal ibadah dan pengabdiannya diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.(Shodiq Syarif)

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *