Hikmah & Kebijaksanaan: Dua Sifat Penting Pemimpin Ideal Menurut Agama & Kearifan Lokal

TROBOS.CO | Setiap rakyat menginginkan negara yang aman, makmur, dan sejahtera. Hidup tenteram dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi adalah idaman bersama. Untuk mencapai itu semua, faktor kepemimpinan memegang peran krusial. Dibutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami masalah masyarakat dan peka terhadap dinamika aspirasinya.

Pemimpin seperti itu harus dilandasi oleh dua sifat mendasar: Hikmah dan Kebijaksanaan. Hikmah adalah pemahaman mendalam tentang hal-hal yang membawa kemaslahatan, berdasar pada akal sehat dan nilai moral. Kebijaksanaan adalah kemampuan mengambil keputusan yang benar, adil, dan bermanfaat berdasarkan pertimbangan matang. Dua sifat inilah yang menjadi ciri utama penakhoda negeri yang diidamkan.

banner 1142x1600

Secara ideal, kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah SAW mencakup Sidiq (jujur, teguh pendirian), Amanah (dapat dipercaya, bertanggung jawab), Tabligh (transparan dalam menyampaikan), dan Fathonah (cerdas dan bijaksana).

Dalam khasanah kearifan lokal Jawa, pemimpin ideal digambarkan sebagai “kawicaksanan langit ambek paramaarta” – memiliki pandangan luas dan tinggi, tak dikuasai nafsu rendah, dan selalu mengutamakan kepentingan bersama. Ini adalah gambaran kematangan batin dan keluhuran moral seorang pemimpin sejati.

Agama dengan tegas mengajarkan untuk tidak memberikan jabatan kepada orang yang memintanya atau “gila kekuasaan”. Apalagi jika kekuasaan itu diraih dengan politik uang, karena ujung-ujungnya akan berpotensi korupsi untuk mengembalikan modal.

Jabatan juga jangan diberikan kepada orang yang tidak mau, karena bisa jadi ia tak punya tanggung jawab. Jabatan seharusnya diberikan kepada mereka yang siap mengabdi untuk kepentingan orang banyak, pribadi yang cerdas, jujur, adil, serta bebas dari kesombongan dan keserakahan.

Media memiliki peran vital dalam mencerdaskan proses pemilihan pemimpin. Peran itu meliputi:

  1. Menyediakan informasi yang akurat, jujur, dan berimbang tentang latar belakang, rekam jejak, serta visi-misi calon.

  2. Menjadi sarana pendidikan politik yang adiluhung, sesuai nilai-nilai demokrasi Pancasila yang religius, mengedepankan persatuan, gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial.

  3. Bertindak sebagai pengawas kekuasaan yang mengungkap penyimpangan dan mengingatkan tanggung jawab penguasa.

  4. Menjadi wadah aspirasi publik yang menampung kritik dan harapan masyarakat.

  5. Mencegah manipulasi dan hoax, serta memberikan narasi yang mencerahkan dan memperluas wawasan.

Dengan dukungan peran media yang bertanggung jawab, diharapkan masyarakat memiliki cara pandang yang lebih tercerahkan untuk memilih pemimpin yang bisa dipercaya dan paham akan “hikmah kebijaksanaan”.

Pemimpin yang ideal adalah yang “dipilih” oleh lingkungan orang-orang shaleh, bukan yang hanya mengajukan diri dengan ambisi. Dengan demikian, bangsa ini dapat terhindar dari dibodohi dan dibohongi oleh elit penghianat yang pandai menyembunyikan kebusukan di balik jubah orasi atau retorika ilmiah yang menipu.

Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *