TROBOS.CO | MOJOKERTO – Dalam perspektif epistemologi Qur’ani, kebenaran tidak diukur dari tinggi-rendahnya posisi seseorang di dunia. Apa yang tampak sebagai kesuksesan di mata manusia, bisa berubah menjadi kegagalan total di hadapan Allah. Karena itu, Islam memandang jabatan bukan sebagai bukti kebenaran, melainkan sebagai alat uji kebenaran yang paling berat.
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat jujur dan tegas: “Kalian akan sangat berambisi terhadap jabatan, padahal ia adalah penyesalan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)
Ini bukan sekadar nasihat moral. Ini adalah pernyataan epistemik yang fundamental: cara manusia menilai kekuasaan di dunia berbeda total dengan cara Allah menilainya di akhirat.
Logika dunia modern sering kali terjebak dalam legitimasi kekuasaan: siapa yang berkuasa, dialah yang dianggap paling tahu dan paling benar. Epistemologi Qur’ani membalik logika ini. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin berat beban pembuktiannya di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ tidak berkata, “jabatan itu berbahaya jika disalahgunakan.” Beliau berkata, jabatan itu sendiri berpotensi menjadi penyesalan. Artinya, masalahnya bukan hanya pada penyalahgunaan, tetapi pada hakikat jabatan sebagai ujian yang rawan menggugurkan amal.
Mengapa jabatan bisa menjadi sumber penyesalan? Karena kekuasaan menciptakan ilusi epistemik. Orang yang berkuasa terbiasa didengar, jarang dikoreksi, dan mudah terjebak dalam anggapan bahwa setiap keputusannya identik dengan kebenaran.
Di titik inilah, ilmu berubah fungsi. Ia bukan lagi alat untuk mencari kebenaran, tetapi menjadi alat untuk membenarkan keputusan. Inilah yang disebut para ulama sebagai fitnah paling halus bagi orang berilmu.
Hari kiamat adalah hari pembongkaran epistemik total. Semua klaim, gelar, dan posisi akan runtuh. Yang tersisa bukan lagi jabatan, tetapi kejujuran dari setiap keputusan yang pernah diambil.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menggambarkannya dengan metafora yang menggetarkan: “Ia (jabatan) tampak menyenangkan di awal, namun sangat buruk di akhirnya.”
Di dunia, jabatan terlihat seperti nikmat: memberi akses, pengaruh, dan otoritas. Namun di akhirat, ia berubah menjadi interogasi panjang tentang setiap pilihan dan kompromi.
Al-Qur’an mengajarkan untuk melihat kebenaran itu sendiri, bukan melihat siapa yang menyampaikannya. Kebenaran bisa datang dari posisi mana pun. Karena itulah, para ulama salaf sangat berhati-hati—bahkan takut—terhadap jabatan. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena mereka paham: jabatan membuat seseorang terlalu mudah merasa benar. Dan merasa benar adalah awal dari kebinasaan epistemik.
Dalam kerangka epistemologi Qur’ani, jabatan harus ditempatkan secara jujur: ia bukan bukti keilmuan, bukan tanda kedekatan dengan Allah, dan bukan jaminan keselamatan. Ia hanyalah soal ujian yang berat.
Maka, pertanyaan terdalam bagi siapa pun yang mendambakan kekuasaan bukanlah, “Apakah aku layak menjabat?” melainkan, “Apakah aku siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan ini di hadapan Allah—saat semua jabatan, gelar, dan kekuasaan duniawi sudah tak bernilai sama sekali?”
Di sanalah kebenaran sejati terungkap: bukan milik mereka yang berkuasa, tetapi milik mereka yang selamat ketika semua kekuasaan itu dicabut.
Cak Muhid, Pesantren Elkisi, Mojokerto, Jawa Timur.









