TROBOS.CO | LUMAJANG – Bulan Januari 2026, Penasehat PDM Lumajang mendapat dua sebutan baru.
Pertama, ketika akan mengisi pengajian Subuh di Masjid al-Qalam unmuh Jember, tanggal 11 Januari 2026 beredar flayer yang menulis nama Suharyo ada tambahan kata Ahmad.
Ketika diingatkan kalau namanya cukup Suharyo saja, Ketua Majelis Dakwah PDM Jember, KH Heny Siswondo, M.Pd menjawab tidak apa-apa. Semoga hal itu menjadi doa, jelasnya.
Flayer terlanjur dishare ke mana-mana. Hal senada pernah dialami almarhum KH Sucipno, mantan Ketua PDM Jember . Beliau pernah menambah namanya menjadi KH Ahmad Sucipno.
Ternyata nama Ahmad punya kedalaman makna. Arti kata Ahmad (أحمد) adalah “yang paling terpuji,” “lebih terpuji,” atau “orang yang selalu memuji/bersyukur kepada Allah”.
Berasal dari bahasa Arab dari akar kata ḥ-m-d (puji) dan merupakan salah satu nama Nabi Muhammad SAW yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Kaitan dengan Islam: Nama ini memiliki makna spiritual mendalam karena merujuk pada Nabi Muhammad SAW, yang sering disebut sebagai sosok yang sangat terpuji.
Kalau pernyataan KH Heny Siswondo benar. Hal itu merupakan doa, maka saya tidak mau berdebat kecuali mengamini.
Di tempat berbeda medio Januari 2026, mantan Ketua PDM Lumajang kembali kaget. Ketua takmir masjid Ar-Rahmah Pasirian Lumajang KH Gatot S dalam pengantar pengajian singkatnya tiba-tiba menyebut nama Suharyo dengan memberi tambahan dengan kata buya.
Penyebutan nama di hadapan peserta pertemuan triwulanan PC Muhammadiyah se Kabupaten Lumajang memancing perhatian audiens. Ada yang senyam – senyum, ada yang tepuk tangan.
Di Muhammadiyah kata buya hanya untuk menyebut orang-orang tertentu. Ada Buya Hamka, Buya Syafi’i Ma’arif (sama sama eks PP Muhammadiyah), Buya Malik Ahmad (tokoh yang pingsan ketika berdebat sengit tentang azas tunggal Panca Sila), Buya Hasan Metarium ( Ketua PPP Pusat), dan beberapa nama tokoh lain.
Penyebutan Buya itu untuk ukuran lokal saja. Saudara Andre sekretaris PCM Tempursari dalam grup PDM langsung menulis nama Buya Suharyo.
Sementara wakil ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Lumajang Drs Aminudin menyatakan, saya kira nama Buya Ahmad Suharyo itu lebih pas. Saya sangat setuju, ujarnya.
Terlepas dari semua itu apalah artinya nama, kata William Shakespeare. Berikut adalah detailnya:
Konteks Karya: Kalimat ini diucapkan oleh karakter Juliet dalam drama tragis “Romeo and Juliet”.
Makna: Juliet mengucapkannya untuk merenungkan bahwa nama hanyalah label konvensional, bukan esensi atau karakteristik asli seseorang.
Dia menyatakan bahwa jika bunga mawar diberi nama lain, aromanya akan tetap wangi.
Tujuan: Dalam cerita tersebut, Juliet mencoba menyampaikan bahwa konflik antar keluarga (Montague vs Capulet) tidak penting, karena dia mencintai Romeo terlepas dari nama keluarganya.
Secara luas, kutipan ini sering digunakan untuk menekankan bahwa kualitas diri seseorang lebih penting daripada label atau nama yang disandangnya.
Kata William Shakespeare, ”Apalah arti sebuah nama.” ”Apalah arti sebuah nama.” Ungkapan itu menggugat arti penting sebuah nama.
Tetapi dalam pandangan kita nama merupakan doa. Dibalik semua usulan dan cletukan itu mudah-mudahan yang terbaik yang terjadi. Barakallah.
TROBOS.CO









