TROBOS.CO | Para pendiri bangsa berjuang dengan darah dan nyawa untuk mengusir penjajah. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan dengan membangun kesejahteraan sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat.
Semangat gotong royong antara militer dan sipil yang menjadi nyawa perjuangan kemerdekaan telah diwujudkan dalam sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Di era modern, di mana hukum “yang kuat menguasai yang lemah” masih berlaku, semangat ini perlu disesuaikan dan diperkuat.
Evolusi Ancaman, Evolusi Pertahanan
Ancaman kini tidak lagi hanya berbentuk invasi militer konvensional. Negara adidaya dapat melakukan tekanan melalui berbagai cara, mulai dari dominasi ekonomi, perang informasi, hingga destabilisasi politik, semuanya dengan dalih keamanan dan perdagangan global.
Oleh karena itu, daya tangkal bangsa harus dibangun dari kekuatan seluruh komponen bangsa. Sishankamrata tidak boleh hanya militer-sentris, tetapi perlu dikembangkan menjadi Sishankamrata Sipil yang terintegrasi dengan program pembangunan nasional, seperti “Asta Cita” yang digagas pemerintah.
8 Pilar Pengembangan Sishankamrata Sipil
Berikut adalah bentuk dan arah konkret pengembangan peran sipil dalam sistem pertahanan semesta:
1. Bela Negara Terstruktur
Melalui pendidikan bela negara berkelanjutan dan penguatan organisasi sipil berbasis keterampilan. Fokusnya pada daya tangkal budaya dan iptek, dengan literasi kebangsaan sebagai fondasi.
2. Ketahanan Pangan & Energi Mandiri
Membangun sistem keamanan cadangan pangan dan energi yang dikelola komunitas. Ketahanan nasional dimulai dari ketahanan di tingkat paling dasar: piring makan dan sumber energi rumah tangga.
3. Industri Pertahanan & SDM Teknologi Mikro
Mendorong industri pertahanan dalam skala kecil-menengah dan menyiapkan SDM teknisi lokal. Kemandirian alat dan perangkat pendukung pertahanan harus dimulai dari tingkat mikro.
4. Pertahanan Siber Nasional Berbasis Talenta
Menyiapkan talenta siber nasional yang terintegrasi dari berbagai latar belakang (akademisi, pelajar, profesional IT). Pertahanan siber adalah garis depan baru yang membutuhkan partisipasi seluruh anak bangsa.
5. Kesiap-siagaan Bencana Terintegrasi
Membentuk sistem logistik, kesehatan, dan evakuasi warga yang terpadu antar-desa, antar-kecamatan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ketangguhan menghadapi bencana adalah cermin ketahanan nasional.
6. Pembangunan Maritim & Perbatasan oleh Nelayan
Memberdayakan nelayan dan komunitas pesisir sebagai garda terdepan pengawasan dan pembangunan di wilayah maritim dan perbatasan. Mereka adalah mata dan telinga negara di lautan.
7. Mobilitas Sumber Daya & Keamanan Lingkungan
Membangun database nasional sumber daya manusia dan material sipil yang dapat dimobilisasi jika diperlukan, serta sistem keamanan lingkungan (neighbourhood watch) terpadu.
8. Pemberantasan Korupsi Secara Semesta
Menggerakkan prinsip “semesta” untuk memberantas korupsi dengan melibatkan rakyat sebagai intelijen sosial, membangun pertahanan digital dan informasi, serta menggalakkan gerakan literasi kebangsaan dan gerakan sosial anti-korupsi.
Gotong Royong sebagai Kekuatan Tangkal Utama
Dengan mengembangkan kedelapan pilar Sishankamrata Sipil ini, kita tidak hanya menghidupkan kembali semangat gotong royong para pendahulu, tetapi juga menyesuaikannya dengan tantangan kekinian. Kekuatan utama bangsa ini bukan hanya pada senjata, tetapi pada kohesi sosial, kemandirian, dan kecerdasan kolektif seluruh rakyatnya.
Dukungan terhadap program pemerintah dan inisiatif dari bawah secara bersamaan akan memperkokoh daya tangkal nasional, menghadapi segala bentuk ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri.
Ir. Widodo Djaelani, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang, tinggal di Griya Mangli Indah, Jember.









