TROBOS.CO | Awal tahun 2026 menjadi momen tepat untuk merenungi kilas balik berbagai tragedi kemanusiaan dan bencana di tahun 2025. Dari genosida di Palestina, penyimpangan moral, lemahnya supremasi hukum, korupsi, hingga bencana alam gempa dan banjir. Semua ini adalah bagian dari ujian hidup yang Allah berikan.
Sebagai umat beriman, penting untuk introspeksi dan menyadari peran sebagai khalifah di bumi. Hidup adalah ladang ujian untuk membuktikan siapa yang terbaik amalnya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mulk: 2. Setiap organ tubuh dan aktivitas kita akan dipertanggungjawabkan dengan adil di akhirat kelak.
1. Fitnatuddin: Ujian dalam Menjalankan Agama
Umat Islam diuji untuk menjiwai agamanya dalam segala kondisi. Segala perbuatan harus ditujukan untuk mencari ridha Allah, sebagai konsekuensi dari status sebagai Muslim.
Peringatan Allah dalam QS. Ali Imran: 102 sangat jelas: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” Pesannya: seberat apa pun tantangan—sakit, kesibukan dunia, lingkungan tak kondusif—kita wajib tetap istiqamah. Situasi sulit itu sendiri adalah ujian.
2. Fitnatu Attauhid: Ujian dalam Menegakkan Tauhid
Tauhid adalah pilar keimanan. Mengabaikannya adalah fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan (QS. Al-Baqarah: 191). Para mufasir menafsirkan “al-fitnah” dalam ayat ini sebagai kemusyrikan—dosa yang tak terampuni.
Oleh karena itu, umat Islam wajib menegakkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah” dalam ucapan dan perbuatan. Hanya Allah yang disembah dan tempat memohon pertolongan (QS. Al-Fatihah: 5). Menjaga tauhid adalah menjaga diri dari kehancuran abadi.
3. Fitnatul A’du: Ujian dari Musuh
Setiap orang yang konsisten menegakkan kebenaran akan memiliki musuh. Sejak zaman Nabi, musuh dari kalangan manusia dan setan selalu ada untuk menguji keteguhan (QS. Al-An’am: 112). Nabi Muhammad SAW pun diuji dengan Abu Jahal dan Abu Lahab.
Kehadiran musuh adalah ujian dari Allah: seberapa kuat kita memegang kebenaran? Apakah kita goyah atau justru semakin kokoh dalam membawa panji tauhid?
4. Fitnatul Maal: Ujian melalui Harta dan Kefakiran
Allah menguji manusia dengan harta dan kemiskinan. Apakah harta membuat seseorang sombong dan lupa diri? Ataukah kemiskinan membuatnya putus asa dan berpaling dari tauhid?
Orang yang bertakwa akan lulus dari ujian ini dengan sikap sabar saat fakir dan syukur saat kaya, tanpa iri atau membandingkan diri dengan orang lain. Semua adalah bagian dari cobaan yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 155.
5. Fitnatun Nafs: Ujian Mental dan Diri Sendiri
Ujian juga datang dari dalam diri, seperti sakit parah atau beban hidup yang berat. Kunci menghadapinya adalah meneladani kesabaran Nabi Ayyub AS. Beliau tetap bersandar pada tauhid, meyakini kekuatan doa, dan meningkatkan ibadah saat diuji (QS. Al-Anbiya’: 83).
Ujian mental menguji kualitas keimanan kita di tingkat paling personal. Apakah kita bersabar dan tawakal, atau justru menggerutu dan menjauh dari-Nya?
6. Taqwa sebagai Solusi dan Pelindung Utama
Di tengah segala ujian, taqwa adalah perlindungan dan solusi tertinggi. Taqwa adalah sikap takut akan azab Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Allah telah menjanjikan berkah dari langit dan bumi bagi penduduk negeri yang beriman dan bertakwa (QS. Al-A’raf: 96). Dalam menghadapi kompleksitas ujian tahun 2026, prinsip persaudaraan (QS. Al-Hujurat: 10) dan semangat saling menolong sebagai satu tubuh (sebagaimana hadis) harus dihidupkan.
Dengan kembali kepada tauhid dan memperkuat taqwa, setiap ujian—dari skala personal hingga global—dapat kita hadapi bukan sebagai beban yang menghancurkan, tetapi sebagai tangga untuk mengangkat derajat kita di sisi Allah.
Dr. Fauzan Muttaqien, S.E., M.M. (ICMI ORDA Kabupaten Lumajang)









