TROBOS.CO | Manusia kerap aneh dalam mensyukuri anugerah. Kita mengeluh saat hujan tak kunjung turun, tetapi juga berkeluh saat hujan lebat datang. Padahal, Allah menciptakan alam semesta dalam kondisi seimbang dan teratur, termasuk siklus air. Kunci memahami dan mengelola siklus ini ternyata telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an.
Mari kita kaji QS Qaf ayat 7: “Dan bumi itu Kami hamparkan, Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah.”
Ayat singkat ini mengandung empat kata kunci yang merupakan fondasi siklus hidrologi: hamparan, gunung yang kokoh, tumbuhkan, dan segala macam tanaman.
-
Hamparan adalah media infiltrasi dan penyimpanan air tanah, yang nantinya muncul sebagai mata air dan aliran sungai.
-
Gunung yang kokoh berfungsi sebagai menara air alami dan daerah tangkapan air (catchment area), menjadi tandon raksasa bagi kehidupan.
-
Tumbuhkan merujuk pada proses yang mengubah tanah mati menjadi subur, mengatur siklus air melalui pertumbuhan.
-
Segala macam tanaman (dari rumput hingga pohon tinggi) adalah teknologi resapan ciptaan Tuhan. Akarnya yang beragam menciptakan porositas tanah, ibarat spons raksasa penyimpan air. Kanopinya menahan energi hujan, mencegah penghancuran struktur tanah permukaan.
Genangan banjir muncul ketika fungsi resapan alamiah berubah. Kerusakan tanah, penggundulan hutan, dan alih fungsi lahan menjadi bangunan kedap air adalah biang keladinya.
Kekeringan terjadi ketika tidak ada lagi sistem peresapan yang berfungsi. Air hujan hanya mengalir di permukaan (run-off), menyebabkan banjir bandang sekaligus mengosongkan lapisan akuifer di bawah tanah. Hasilnya: banjir di musim hujan, kekeringan di musim kemarau.
Penanggulangannya harus meniru dan memulihkan sistem yang telah digariskan dalam ayat tersebut. Solusinya terbagi berdasarkan kondisi lahannya:
A. Untuk Hamparan yang Terlanjur Terbangun:
-
Sumur Resapan & Biopori: Menyalurkan air hujan langsung ke dalam tanah.
-
Kolam Retensi: Menampung air sementara sebelum meresap perlahan.
-
Paving Berlubang & Ruang Terbuka Hijau (RTH): Meningkatkan permeabilitas permukaan tanah.
B. Untuk Lereng yang Terdegradasi:
-
Rehabilitasi Vegetasi: Menanami kembali dengan tanaman berakar dalam.
-
Konservasi Tanah dan Air Berbasis Kontur: Membuat terasering, guludan, atau rorak.
-
Pengendalian Erosi: Menggunakan mulsa, serasah, atau rumput penutup tanah.
Semua ciptaan Allah ada maksudnya. Sebagai Khalifah di muka bumi, tugas kita adalah “Memayu Hayuning Bawana” – memelihara kelestarian dan keindahan dunia. Hakikat kehidupan adalah bersama alam, bukan mengeksploitasinya.
Dengan memahami bahasa alam melalui kacamata sains dan petunjuk Al-Qur’an, kita tidak lagi sekadar mengeluh atas banjir atau kekeringan. Kita justru dapat bertindak sebagai mitra alam, memulihkan keseimbangan yang telah digariskan-Nya, demi keberlangsungan semua makhluk.
Ir. Widodo Djaelani



