TROBOS.CO | MAGELANG – Sering kali, istilah “lansia” dan “pensiun” disalahartikan sebagai tanda berhenti dan pasif. Namun, refleksi perjalanan amanah sepanjang 2025 membuktikan sebaliknya. Di tangan para lansia dan pensiunan, justru lahir gerakan-gerakan sosial, dakwah, dan pemberdayaan yang semakin matang dan berdampak luas.
“Jiwa pengabdian, semangat berkarya, dan dorongan untuk memberi manfaat kepada sesama tidak pernah mengenal istilah pensiun,” tulis Agoek82 dalam refleksi akhir tahunnya dari lereng Gunung Merapi, Magelang, Selasa (31/12/2025).
Tahun 2025 mencatat sederet capaian yang digerakkan oleh energi para senior. Dari Jalan Sehat Milad Muhammadiyah yang meriah, pengelolaan zakat yang melampaui target, hingga respon tanggap bencana yang cepat, semua menunjukkan bahwa pengalaman dan kematangan justru menjadi modal berharga.

“Energi pengabdian tidak berkurang oleh usia — justru semakin jernih arah dan semakin luas dampaknya,” tulis Agoek.
Refleksi ini menyoroti peran aktif lansia dan pensiunan di berbagai lini organisasi:
-
Sosial & Kemanusiaan: Lazismu, MDMC, Bikersmu, IKA UB, dan Ka Clean bergerak cepat menanggapi bencana seperti erupsi Semeru dan banjir di berbagai daerah.
-
Pemberdayaan Umat: Inisiatif strategis seperti pembentukan JATAM, pelatihan budidaya cacing, pendampingan KKN, pendirian yayasan sosial, hingga pengembangan media dakwah digital.
-
Penguatan Keluarga: Peran sebagai penasihat, pendamping anak-cucu, dan sumber keteladanan nilai dalam keluarga.
“Semua ini menunjukkan bahwa masa pensiun bukan masa henti, melainkan masa transisi menuju bentuk pengabdian yang lebih bebas, kreatif, dan berdampak,” jelasnya.
Agoek menegaskan bahwa kelompok lansia bukanlah objek yang hanya perlu dirawat. “Mereka adalah pemberi arah dan penjaga keteladanan. Mereka bukan hanya dirawat, tetapi justru merawat peradaban melalui sikap dan karya nyata.”
Refleksi ini ditutup dengan pesan yang menggugah: “Lansia bukan akhir perjalanan — mereka adalah penunjuk jalan bagi generasi setelahnya. Hidup yang bermakna bukan diukur dari usia, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan.”
Dengan semangat ini, tahun 2025 menjadi saksi bahwa selama api pengabdian masih menyala di hati, selama itu pula kontribusi untuk umat dan bangsa akan terus mengalir, melampaui batas usia dan status administratif apa pun.
Agoek82 (Aktivis & Pemerhati Sosial, Magelang)









