Berjuang dari Nol hingga Lulus Cumlaude: Kisah Bheta & Shinta, Wisudawan UIJ yang Bertahan dengan KIP Kuliah

TROBOS.CO | JEMBER – Usai lulus SMA pada 2021, dua sahabat sepupu asal Banyuwangi, Betha Nafisatu Afiarina dan Shinta Chumairoh, dihadapkan pada jalan buntu. Keinginan kuat untuk kuliah terbentur dinding tebal: keterbatasan ekonomi.

Shinta sempat mencoba jalur KIP Kuliah ke beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), namun gagal. Sementara Bheta bahkan tidak berani mendaftar. “Jangankan untuk biaya hidup, untuk biaya daftar saja tidak punya,” kenang Kava, kerabat yang mendukung mereka.

banner 1280x716

Harapan itu muncul pada Agustus 2021, saat Kava mendapat informasi bahwa Universitas Islam Jember (UIJ) membuka penerimaan mahasiswa baru jalur KIP. Setelah dikonfirmasi, Kava segera menghubungi kedua sepupunya.

Shinta, yang pernah mendaftar di PTN lain, proses transfer datanya relatif lancar. Namun, Bheta harus memulai dari nol, bahkan terbentur biaya pendaftaran Rp 100.000. “Itu pun dia tidak punya, sehingga dibantu oleh pihak lain,” ujar Kava.

Setelah mendaftar, mereka harus menunggu hampir dua bulan untuk kepastian kuota KIP dari Kementerian Pendidikan. “Betapa senangnya setelah dinyatakan diterima. Keduanya langsung pamit keluarga untuk mengadu nasib masa depan di Jember,” tulis Shodiq Syarif, dalam liputannya.

Awal perkuliahan di Fakultas Hukum UIJ penuh tantangan. Selain menyesuaikan kehidupan kampus, mereka harus hidup super hemat. “Sebab, meski sudah masuk daftar KIP, tidak otomatis langsung mendapat biaya. Tapi harus menunggu beberapa bulan, bahkan hingga setahun,” jelasnya.

Untuk bertahan, mereka tinggal sekost dan masih disuplai orang tua yang merantau. “Kan sudah tidak mikir uang kuliah,” kata Shinta saat itu. Ketika dana KIP akhirnya cair per semester, mereka bisa bernapas lega dan fokus sepenuhnya pada studi.

Kesabaran dan ketekunan mereka berbuah manis. Bheta menyandang gelar Sarjana Hukum dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90, menyusun skripsi berjudul “Perlindungan Data Pribadi yang Digunakan Oleh Orang Lain untuk Pinjaman Online Tanpa Izin”.

Shinta menyusul dengan prestasi gemilang, lulus dengan IPK 3,85 melalui skripsi berjudul “Strategi Pemerintah Desa dalam Mewujudkan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat di Desa”.

Momen wisuda menjadi saksi kebahagiaan yang mengharukan. Kedua orang tua mereka buru-buru pulang dari perantauan demi menyaksikan anaknya diwisuda.

Kini, perjuangan memasuki babak baru: meniti karier. “Saya ingin membahagiakan kedua orang tua,” tutur Bheta penuh harap.

Kisah Bheta dan Shinta menjadi bukti nyata bahwa program KIP Kuliah bukan sekadar bantuan finansial, melainkan jembatan penyelamat yang mengubah takdir dan membuka jalan bagi generasi muda berprestasi dari keluarga prasejahtera untuk meraih cita-cita setinggi-tingginya.

Shodiq Syarif

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *