TROBOS.CO | SURABAYA – Di tengah tekanan hidup yang sering memicu emosi, menjaga respons agar tetap positif bukanlah hal mudah. Teguh Wahyu Utomo, penulis buku asal Surabaya, membagikan formula sederhana namun ampuh untuk melatih pengendalian diri: STS atau Sabar, Tenang, Senyum.
“Saat emosi kita meninggi, apa pun penyebabnya, kita tidak perlu melepaskan suara atau sikap yang menyakiti orang lain dan merusak nama baik kita,” tulis Teguh dalam renungannya yang dikutip TROBOS, Rabu (8/1/2026).
Teguh merinci setiap sikap dalam STS sebagai berikut:
-
SABAR: Dasar Utama Menahan Amarah
Sabar adalah fondasi untuk tidak bereaksi berlebihan. Ini adalah kemampuan menahan diri untuk tidak meluapkan emosi negatif yang bisa melukai perasaan orang lain. -
TENANG: Sikap Datar dan Sejuk dalam Segala Situasi
“Ketenangan adalah cermin kuatnya kesabaran,” jelas Teguh. Sikap ini tercermin dari lisan yang terjaga dan gerakan yang terkendali, kebalikan dari kepanikan, kegelisahan, dan obsesi yang tak terkontrol. -
SENYUM: Ekspresi Tulus dari Lubuk Hati
Senyum bukan sekadar gerak wajah, melainkan sikap bersahabat dan wujud cinta kasih yang tulus kepada siapa pun yang kita temui. “Ini adalah bahasa universal yang mencairkan ketegangan,” tambahnya.
Dalam renungannya, Teguh memberikan pesan kontras yang mendalam. “Kita tidak perlu berlatih untuk bersikap dingin, tidak peduli, dan tak acuh, karena kita sudah sangat berbakat dalam hal itu.”
“Akan tetapi, kita mungkin akan belajar sepanjang hidup untuk tersenyum, peduli, dan ramah,” lanjutnya. Pernyataan ini mengajak refleksi bahwa sifat positif membutuhkan usaha dan latihan yang konsisten.
Teguh mengajak semua orang untuk mempraktikkan tiga sikap ini dalam keseharian. “Coba tiga latihan STS ini, niscaya akan banyak kebahagiaan serta kebaikan yang kita temukan dalam hari-hari hidup kita,” tulisnya, menutup renungan dengan harapan dan doa (Aamiin).
Latihan STS ini tidak hanya berguna untuk mengendalikan emosi sesaat, tetapi juga membangun karakter yang lebih tangguh, hubungan sosial yang lebih harmonis, serta kedamaian batin yang lebih terjaga di tengah dinamika hidup yang tak terduga.
Teguh Wahyu Utomo (Penulis Buku, Surabaya)









