TROBOS.CO | Ustadz Jazir telah pergi, tapi Jogokaryan akan tetap hidup. Politik sebagai kebajikan publik bagi beliau adalah tugas setiap muslim untuk menyediakannya.
Tidak boleh ada yang memonopoli politik, apalagi partai politik. Tidak boleh ada yang memonopoli keamanan, apalagi polisi. Tidak boleh ada yang memonopoli pertahanan, apalagi TNI.
Tidak boleh ada yang memonopoli ekonomi, apalagi oligarki. Juga tidak boleh ada yang memonopoli pendidikan, apalagi sekolah.
Setiap kebajikan publik adalah tugas setiap warga, apalagi muslim yang membawa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Kebajikan publik ini diinstitusikan dalam masjid. Rahmat bagi semesta alam, tidak cuma manusia.
Itulah nasehat paling berharga dari Ustadz Jazir. Masjid adalah rahim peradaban, bukan sekedar property rumah ibadah dengan karpet tebal dan menara tinggi yang tidak peduli dengan kepentingan publik.
Peradaban ditakar dari bagaimana kebajikan publik disediakan oleh masyarakatnya. Islam adalah model tatakelola kebajikan publik yang majemuk. Memisahkan politik dari masjid, apalagi dari Islam adalah membunuh rahim peradaban, lalu melenyapkan kebajikan publik, menghadirkan ketidakadilan, kemiskinan, dan berbagai kejahatan yang memperbudak dan merusak kehidupan publik.
Negeri ini didirikan oleh para ulama -mereka yang berilmu dari berbagai latar belakang, kecuali komunis- yang terbaik di zamannya. The best minds of their kind baik dari segi ilmu maupun akhlaq dan adabnya.
Negeri ini dirancang dalam UUD 18/8/1945 sebagai deklarasi perang melawan segala bentuk penjajahan, dan strategi untuk memenangkan perang tersebut.
Itulah politik kemerdekaan yang diamanatkan pada setiap warga negara : melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan misi khilafaty menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial.
Mengatakan Islam anti-NKRI, bahkan anti-Pancasila adalah operasi bendera palsu kaum sekuler radikal untuk menjauhkan Islam dari politik.
Berpolitik dalam rangka menghadirkan kebajikan publik bagi setiap muslim adalah tugas kenabian sekaligus amanah para ulama pendiri bangsa.
Dalam rangka menyediakan solusi bagi paradoks Indonesia, umat Islam perlu mewujudkan kembali politik kemerdekaan sebagaimana rumusan para ulama pendiri bangsa sesuai dengan UUD 18/8/1945, bukan UUD 10/8/2002 hasil karya kaum sekuler radikal yang memanfaatkan kaum nasionalis sebagai useful idiots. Ini adalah jejak yang telah diteladankan oleh Ustadz Jazir di Jogokaryan, kita perlu melanjutkannya untuk Njogonegoro, menyelamatkan Garuda dari mulut Naga, atau kaki Gajah.
Wonosalam, Jombang. 700 mdpl. Selasa 23/12/2025





