TROBOS.CO | Proses penuaan seringkali dikaitkan dengan berkurangnya produksi Human Growth Hormone (HGH) seiring bertambahnya usia. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa penuaan bisa diperlambat. Sebuah pendekatan yang menarik datang dari persimpangan sains dan spiritualitas: dzikir dan tafakur.
Menurut Ir. Widodo Djaelani, praktisi dan pemerhati sains spiritual dari Jember, aktivitas mengingat Allah (dzikir) dan merenungkan maknanya (tafakur) ternyata memiliki dampak fisiologis yang luar biasa dalam menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan sel.
“Stres, gelisah, dan perasaan takut adalah penyebab utama terganggunya produksi hormon. Al-Qur’an sudah memberikan solusinya: ‘Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram’ (QS Ar-Ra’d: 28). Ketenangan inilah kuncinya,” jelas Widodo kepada TROBOS, Sabtu (4/1/2026).
Keterkaitan Hormon, Stres, dan Penuaan Dini
Penuaan tak hanya soal waktu. Faktor psikologis seperti stres kronis dapat mengacaukan sistem endokrin (hormonal). Sementara solusi medis seperti terapi hormon atau stem cell seringkali mahal dan invasif.
“Ada cara yang lebih alamiah, murah, dan berada dalam diri kita sendiri: yaitu mengelola pikiran dan hati melalui dzikir dan tafakur,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini.
Mekanisme Dzikir-Tafakur terhadap Delapan Kelenjar Hormon Utama
Widodo memaparkan, pendekatan kesadaran dalam dzikir-tafakur menciptakan kejernihan pikiran yang berdampak sistematis pada keseimbangan hormon. Berikut pengaruhnya terhadap delapan kelenjar utama:
- Hipotalamus & Pituitari: Dzikir yang khusyuk menenangkan hipotalamus (pengontrol stres), yang kemudian memberikan sinyal optimal ke kelenjar pituitari untuk mengatur hormon pertumbuhan (HGH) dan kelenjar lain dengan lebih baik.
- Pineal (Mata Ketiga): Tafakur dalam ketenangan merangsang kelenjar pineal untuk memproduksi melatonin secara optimal, mengatur ritme tidur dan berperan sebagai antioksidan kuat yang memperlambat penuaan sel.
- Tiroid: Ketenteraman hati mengurangi risiko disfungsi tiroid, menjaga metabolisme sel, energi, dan suhu tubuh tetap stabil.
- Timus: Kondisi jiwa yang tenang menguatkan sistem imun dengan mendukung regenerasi sel-sel imun di kelenjar timus.
- Pankreas: Mengurangi stres emosional membantu regulasi gula darah yang lebih baik.
- Gonad (Ovarium/Testis): Ketenangan batin mendukung kesehatan reproduksi, vitalitas, serta menjaga masa otot dan tulang.
- Adrenal: Dzikir yang mendalam mengurangi beban adrenal dengan menekan produksi kortisol (hormon stres) berlebih, sehingga tekanan darah dan respons ‘fight or flight’ menjadi lebih terkendali.
Dzikir & Tafakur sebagai Terapi Integratif
“Ketika dzikir dan tafakur dilakukan dengan benar, kita memasuki kondisi homeostasis psiko-neuro-endokrin – suatu keadaan seimbang di mana pikiran, saraf, dan hormon bekerja dalam harmoni. Inilah kriteria sehat yang sesungguhnya,” jelas Widodo.
Ia menegaskan bahwa pendekatan ini bukan menggantikan pengobatan medis, tetapi berfungsi sebagai terapi komplementer dan preventif yang ampuh. “Ini adalah anugerah dari Sang Pencipta yang sudah terinstal dalam diri kita. Tinggal bagaimana kita mengaktifkannya secara konsisten.”
Langkah Praktis Memulai
Widodo membagikan tips sederhana untuk memulai:
- Sisihkan waktu 10-15 menit di waktu hening (sepertiga malam terakhir atau pagi hari).
- Duduk tenang, fokus pada pernapasan.
- Ucapkan kalimat dzikir (seperti “La ilaha illallah”) dengan penghayatan mendalam.
- Tafakuri makna dan kebesaran Allah, lepaskan segala kekhawatiran.
“Konsistensi adalah kuncinya. Seperti olahraga untuk jiwa, latihan ini akan memperkuat ‘mental imun’ dan pada gilirannya meregulasi kesehatan fisik secara keseluruhan, termasuk memperlambat laju kerusakan sel,” pungkasnya. (bersambung)
Ir. Widodo Djaelani (Pemerhati Sains Spiritual, Jember)









