TROBOS.CO | Di zaman ketika algoritma bukan lagi sekadar memprediksi, melainkan sudah menentukan siapa kita, kearifan Jawa seperti titen, titis, sawang, dan suwung kembali menemukan relevansinya sebagai penyangga nurani di tengah derasnya arus digital.
Titen—ketelitian membaca tanda—bertumpu pada kepekaan indra dan mata batin. Dalam konteks literasi digital, ia melatih jeda: menunda reaksi, menguji sumber, membaca maksud, dan mengenali tendensi sebelum mengambil sikap.
Titis—ketepatan yang berlandas kejernihan rasa—melampaui presisi teknis. Ia menawarkan kerangka etika bagi kecerdasan buatan dan pengambilan keputusan publik, dengan menempatkan kemaslahatan dan rasa sebagai parameter di luar kalkulasi algoritmik.
Namun, titen dan titis mudah goyah ketika sawang—cara memandang dunia—dibentuk oleh arus informasi yang dipersonalisasi. Kita menjadi cepat menilai, lambat memahami; sibuk menjawab, tetapi jarang merenung. Tanpa kedalaman yang benar, titis menjadi presisi yang hampa.
Di sinilah suwung menjadi kunci. Suwung bukan kekosongan, melainkan kejernihan dalam keheningan: ruang batin yang lapang untuk menyaring bising, mendengar suara hati, dan memulihkan kedalaman pandang.
Tanpa suwung, sawang kehilangan arah. Manusia mudah hanyut menjadi cermin layar gawai, terutama ketika akurasi harus bersaing dengan statistik, validasi data, dan kurasi visual yang diam-diam membentuk penilaian kita.
Persoalan ini bukan semata teknologi, melainkan cara manusia meresponsnya. Kita hidup tergesa-gesa dalam badai informasi; berita viral mendahului verifikasi, desas-desus mengalahkan klarifikasi. Karena itu, titen kembali penting sebagai kehadiran, bukan sekadar observasi.
Kita kehilangan ruang memilah akurasi sejati dari presisi semu—tersesat di antara bias kognitif, manipulasi narasi, dan ilusi objektivitas. Derasnya disinformasi membuktikan bahwa kecanggihan digital tak otomatis mencerdaskan.
Krisis semacam ini telah lama disadari tradisi batin. Para sufi menegaskannya berabad-abad lalu. Al-Ghazali menulis bahwa cahaya hati sering lebih jernih menimbang kebenaran daripada akal yang sibuk berhitung; Ibn ‘Arabi menyebut kejernihan itu sebagai suwung, ruang hening tempat kebenaran turun dengan lembut.
Kesadaran batin ini relevan bagi kehidupan kolektif. Negara dan masyarakat membutuhkan strategi manusiawi. Titen menjadi dasar literasi media, sementara titis menuntun etika kebijakan dan teknologi agar tak tercerabut dari nilai.
Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019) menunjukkan bahwa algoritma kini bukan sekadar memprediksi manusia, melainkan membentuk perilakunya. Kita tak lagi menerima berita secara mentah, melainkan versi yang disesuaikan—bahkan “diberi harga”—agar paling cocok dengan logika algoritma.
Dalam kultur semacam ini, sawang makin terjalur: kita lebih mudah terjebak dalam penilaian sepihak dan lebih sibuk berkomentar daripada merenungkan. Tanpa suwung, manusia tak lagi menjadi subjek yang merdeka, melainkan perpanjangan hampa dari perangkat digital.
Di sinilah nilai-nilai Jawa menemukan rumahnya. Titen mengajarkan akurasi yang berjiwa; titis menuntun presisi yang berhikmah. Keempat nilai ini (titen, titis, sawang, dan suwung) adalah pembeda arah peradaban: apakah masyarakat menuju harmoni atau kekacauan, apakah individu selaras dengan etik atau terjebak imitasi, apakah struktur sosial adil atau justru menyamarkan ketimpangan.
Pada akhirnya manusia tetap manusia, dituntut menjaga keseimbangan antara kecanggihan mesin dan kedalaman jiwa. Dalam hening itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala memandu—kebutuhan manusia yang abadi lintas zaman: “Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)
Penulis: Didik P. Wicaksono. Pemerhati sosial digital dan budaya kontemporer.









