TROBOS.CO | SURABAYA – Dalam seri kedua kajian akhir tahunnya, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur mengalihkan fokus pada sektor industri pengolahan, perdagangan, dan ekspor—yang merupakan jantung produktivitas dan penentu daya saing ekonomi Jatim di kancah nasional.
Kajian yang disusun berdasarkan data resmi BPS, Bank Indonesia, dan Kementerian Perdagangan ini mengungkap sebuah realitas: industri Jawa Timur kuat dalam volume, tetapi masih rapuh dalam hal nilai tambah dan inovasi.
Secara struktural, posisi industri Jawa Timur sangat signifikan. Sektor ini menyumbang sekitar 31% terhadap PDRB provinsi, salah satu kontribusi terbesar di Indonesia. Sepanjang 2025, industri pengolahan kembali menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, ditopang oleh subsektor seperti makanan dan minuman, kimia, barang logam, serta manufaktur menengah yang telah matang.
Namun, kekuatan dalam jumlah ini tidak diimbangi dengan lompatan kualitas. Peningkatan output industri masih didominasi oleh subsektor dengan intensitas teknologi menengah-rendah. Sementara itu, penetrasi manufaktur bernilai tambah tinggi—yang berbasis riset, inovasi, dan desain—masih sangat terbatas.
Hal ini tercermin pada produktivitas tenaga kerja yang belum melesat tajam dan komposisi ekspor yang masih didominasi oleh produk setengah jadi dan berbasis sumber daya. Jawa Timur belum sepenuhnya mampu mengonversi kapasitas industrinya yang besar menjadi lonjakan ekspor produk jadi bernilai tinggi.
Sektor perdagangan tumbuh stabil, didorong oleh konsumsi domestik dan peran Jatim sebagai hub logistik kawasan timur Indonesia. Namun, biaya distribusi dan waktu tempuh masih menjadi keluhan utama pelaku usaha.
Di sisi ekspor, meski nilainya tumbuh positif seiring pemulihan pasar global, ketergantungan pada pasar tradisional dan minimnya diversifikasi produk bernilai tinggi menjadi tantangan serius dibandingkan capaian nasional yang mulai terdorong hilirisasi.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM/IKM) tetap menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja. Namun, sebagian besar masih menghadapi hambatan klasik: akses pembiayaan murah, standardisasi produk, dan integrasi ke dalam rantai pasok industri besar. Program kemitraan yang ada dinilai belum cukup untuk mengubah struktur industri secara signifikan.
Setelah mempertimbangkan seluruh aspek, ICMI Jawa Timur menilai kinerja sektor industri, perdagangan, dan ekspor Jatim tahun 2025 berada pada kategori “PRESTASI SEDANG”.
“Sektor ini bekerja efektif sebagai mesin pertumbuhan, tetapi belum sepenuhnya berfungsi sebagai mesin lompatan daya saing,” tegas Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur. Tanpa akselerasi inovasi dan peningkatan kualitas, Jatim berisiko terjebak pada pertumbuhan yang padat aktivitas, namun tipis keuntungan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ICMI Jatim memberikan catatan strategis:
-
Dorong Industrial Upgrading: Berikan insentif bagi industri yang berbasis teknologi, desain, dan riset.
-
Perkuat Hilirisasi Regional: Fokuskan kebijakan agar ekspor tidak hanya naik volumenya, tetapi juga mutu dan nilai tambahnya.
-
Integrasikan IKM dengan Industri Besar: Perkuat kemitraan wajib dan skema pembiayaan berbasis rantai pasok.
-
Turunkan Biaya Logistik: Ini adalah kunci utama meningkatkan daya saing perdagangan regional.
Pertumbuhan industri memberi tenaga, tetapi nilai tambah yang memberi arah. Tahun 2025 membuktikan Jawa Timur telah “bekerja keras” mempertahankan mesin industrinya. Tantangan ke depan adalah bagaimana “bekerja lebih cerdas”—dengan mendorong inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat integrasi rantai nilai—agar kekuatan industri benar-benar mengangkat daya saing dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.
Ulul Albab, Ketua ICMI Jawa Timur









