Hati yang Selalu Terjaga

TROBOS.COBisa dibayangkan bagaimana perasaan manusia jika tidak mengenal Tuhan. Jiwanya gersang, selalu gelisah, cemas, dan kesepian.

Perasaan seperti ini pernah dialami oleh Nabi Ibrahim As sebelum diangkat sebagai Rasul Allah.

banner 1280x716

Untuk mengobati kegelisahan jiwanya, Nabi Ibrahim melakukan perjalanan ruhani. Mencari Tuhan dengan menelurusi alam bebas, tanpa takut salah.

Akhirnya sampai pada pengakuan, bintang itu adalah Tuhan. Bintang rajin menyapa makhluk di waktu malam, sedang yang lain istirahat, tidur pulas.

Pengakuan itu berhenti ketika bintang tenggelam, Ibrahim menepisnya. Ini bukan Tuhan.
Selanjutnya, mengatakan, “Ini Tuhan.” Yang dimaksud adalah rembulan.

Wujudnya lebih besar, dan cahayanya lebih kuat. Tetapi Ibrahim segera menepis kembali ketika rembulan juga tenggelam, Ini bukan Tuhan.

Selanjutnya, Ibrahim menemukan Tuhan jauh lebih besar, yaitu matahari. “Ini Tuhan, ini lebih besar dari yang lain.” Tetapi, ketika matahari tenggelam di ufuk barat, Ibrahim pupus pengakuannya. “Tuhan tidak pernah mati,” tegasnya.

Sejak itu pengakuan jiwanya tertuju kepada Zat yang ada di balik alam semesta. Yaitu, yang menciptakan alam ini. Ke sana wajah dihadapkan, kepada-Nya beriman dan kepada-Nya menyembah.

Perjalanan ruhani itu mengantarkan jiwa Ibrahim sampai pada keimanan yang sangat dalam. Berangkat dari keraguan setelah menemukan jawaban imannya jauh lebih mantap.

Orang-orang Barat, menemukan Tuhan setelah melakukan perjalanan panjang. Banyak pakar menemukan agama setelah melakukan penjelajahan alam.

Di sana menemukan bukti kekuasaan Allah. Maurice Buhile sarjana Prancis yang sekuler akhirnya membenarkan ajaran Muhammad setelah menemukan pernyataan Qur’an yang menyatakan, bahwa di laut Merah ada garis pemisah antara air laut yang kadar garam tinggi dengan yang berkadar garam rendah.

Setelah dicek di lokasi ternyata benar, garis pemisah tampak jelas seperti pagar yang membedakan kadar garam.

Muhammad orang padang pasir, tetapi Al Quran menyatakan demikian, berarti kalimat dalam Al Quran bukan karangan Muhammad. Kalau begitu Al Quran dijamin kebenarannya, ujarnya.

Kita bisa lihat pengaruh karangan Salman Rusdhi yang berjudul The Satanic Versus. Di dalamnya menjelekkan Nabi Muhammad. Nabi disudutkan dengan alasan ini dan itu.

Karangan yang ingin mendiskreditkan Nabi Muhammad itu justru menimbulkan arus balik. Yaitu, mendorong orang Barat ingin tahu kitab yang dipakai umat Islam. Mereka ramai-ramai membeli Al Quran lengkap dengan terjemahnya.

Apa yang terjadi? Bukan kebencian seperti yang diharap pengarang buku ini. Yang muncul, justru banyak orang hanyut dalam keyakinan akan kebenaran Islam.

Nah, orang yang menemukan Allah seperti itu yang lebih mantap hatinya. Mereka menemukan kedamaian hidup. Allah berjanji menambah keimanan mereka sehingga lebih mantap lagi.

Intimnya seseorang dengan Allah melahirkan berbagai sikap kejiwaan yang positif.

Jiwa Menjadi Tenang
Apa manfaat ingat kepada Allah? Pertanyaan ini dijawab oleh Allah dalam Al Quran, ‘Alaa bidzikrillahi tathma’inul quluub'(Q.S Ar-Ra’ad: 28). Artinya, “Ketahuilah dengan banyak mengingat Allah hati akan menjadi tenang.”

Dengan mengingat Allah hati menjadi damai, tidak gelisah, serta tidak mudah putus asa.

Bangsa-bangsa di negara maju yang pemerintahnya tidak mendorong rakyatnya mencintai Tuhan, sebut RRC yang membebaskan rakyatnya tidak ber-Tuhan, yang terjadi adalah rakyatnya mengalami kegelisahan jiwa yang sangat dalam.

Perjalanan waktu hanya diisi dengan kerja dan kerja, uang dan uang, serta kesibukan demi kesibukan. Setelah uang didapat, pekerjaan dimiliki, dan kesibukan lain ternyata jiwanya berontak, gersang dan gelisah.

Agar jiwa kita selalu tenang marilah selalu mendekat, mencintai, dan bermesra ria dengan Allah. (*)

Penulis Suharyo, pemerhati masalah sepele.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *