TROBOS.CO | Dzikir, hati terukir. Ngaji menjadi terpuji. Tekun ibadah derajat menjadi lebih “wah”. Itulah riyadhoh spiritual. Membuat jiwa cepat dewasa.
Usia itu ada dua macam. Ada usia mental dan usia kalender. Usia mental, usianya masih anak-anak. Tapi mentalnya sudah matang/ dewasa.
Sebaliknya, ada orang umurnya sudah dewasa tetapi jiwanya masih anak- anak. Itu namanya usia kalender.
Perlu pengkondisian. Anak yang hidup dalam suasana baik, perkembangan jiwanya cepat melesat naik.
Dia terus sibuk mencari kedalaman dan keluasan ilmu. Semakin banyak belajar, semakin merasa kurang. Ibarat meneguk air laut, semakin banyak minum semakin terasa haus.
Dia pun sadar dan yakin di atas langit masih ada langit. Di atas orang alim masih banyak orang yang jauh lebih alim. Maka tidak pernah berhenti belajar.
Suburkan Dzikir
Yang dimaksud dzikir adalah ingat dan menyebut nama Allah. Begitu kata Dr. Quraish Shihab. Manfaatnya, orang yang banyak ingat dzikir hatinya tenang dan hidupnya terkendali.
Jauh dari sikap arogan (sombong), sebab yang layak sombong hanyalah Allah. Manusia tidak punya daya dan kekuatan apa apa sehingga tidak pantas jiwanya mendongak.
Nilai – nilai tersebut diajarkan dalam shalat. Ketika takbiratul ikhram. Kedua tangan diangkat. Itu tanda pasrah kepada Zat yang menciptakan manusia. Maka ucapkan dengan tegas kata Allahu Akbar, Allah Maha Besar.
Pandangan mata ke bawah ( ke tempat sujud), maksudnya melihat tanah calon tempat tinggal kita. Tidak boleh mendongak (sombong). Tangan sedekap, agar ingat kita kelak ketika tutup usia tangan disedekapkan.
Dan, setiap orang pasti menuju tanah, tempat sujud yang dipandang ketika shalat. Maka anak perlu diajak menghayati filosofi gerak shalat supaya timbul kesadaran bahwa hidup tidak boleh merasa hebat.
Semua manusia punya keterbatasan. Inilah yang perlu dipahami. Keterbatasan meliputi ilmu, harta, pengalaman dan hal lain.
Keterbatasan bisa berupa gagal meraih cita-cita, hilangnya sesuatu yang dicintai, keinginan yang tak tidak tercapai, dan lain – lain.
Masih ada makna filosofi gerak dalam shalat. Yaitu, gerakan utama, berdiri tegak, rukuk, sujud, dan salam. Usia muda adalah usia masih tegak, maka misi utamanya membawa Allahu akbar.
Tetapi disadari, bahwa usia tegak tidak selamanya, paling 60 – 70 tahun. Pada usia sekian itu berdatangan penyakit.
Saat sakit hendaknya paham bahwa semua itu atas kemauan Allah. Sakit itu cara Allah menghapus dosa. Nabi Ayup ketika disarankan berdoa oleh istrinya karena sakit-sakitan tahun. Da mengaku malu kepada Allah meminta sembuh.
Alasannya waktu sehatnya lebih lama dibanding sakitnya.Masak sakit sebentar saja sudah minta sembuh.
Orang sakit itu, memberi berkah. Muncul Rumah Sakit, Puskesmas dll. Jutaan orang mendapat gaji karena merawat orang sakit. Bagi orang sakit jika sabar, dihapus dosanya.
Gerakan shalat berikutnya adalah rukuk. Usia 50-60 tahun. Pada usia itu, kita membawa misi mengagungkan Allah. Bacaan rukuk, Subhana rabbiyal adimi wabihamdihi (Maha suci Allah yang Maha Agung.
Di usia yang mulai rukuk kita perbanyak ibadah dalam rangka mengagungkan Allah. Disambung dengan sujud yang membawa misi mensucikan Allah yang Maha Tinggi.
Setelah sujud tidak ada lagi gerakan yang kita lakukan kecuali salam bagi kehidupan. Itulah perjalanan terakhir hidup di bumi ini.
Dengan memahami arti filosofi gerak shalat anak akan semakin tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup. Ia tidak hanya bisa menuntut apalagi selalu minta dilayani.
Membaca kemauan Allah itu perlu. Kalau kita mengalami derita, yakinlah itu cara Allah untuk mengantar kita menuju bahagia.
Syaratnya sabar dan istiqomah. Kalau kita gagal, sadar dan koreksi diri. Yakinlah tidak pernah ada kegagalan yang abadi. Usai gagal pasti ada sukses.
Singkatnya, memahami kemauan Allah atas segala peristiwa hendaknya dengan baik sangka, bukan dengan buruk sangka. (*)
Penulis, Suharyo, pemerhati masalah sepele









