TROBOS.CO | Rasulullah ditanya oleh orang Arab desa, “Saya ingin menjadi orang adil?. Bagaimana caranya?
Beliau menjawab, ” Kasihanilah manusia sebagaimana engkau kasihan pada diri sendiri. Dengan demikian engkau menjadi manusia adil.”
Di antara amalan ahli sorga adalah berbuat adil dalam semua urusan. Baik adil kepada Allah, adil terhadap sesama, adil kepada orang yang berbeda keyakinan, adil kepada orang kafir, dan adil lainnya.
Kata kunci dari semua itu adalah kasih sayang. Kembangkan rasa kasih sayang kepada siapapun, Anda akan menjadi orang adil.
Suatu pagi. Rasulullah berangkat menuju tanah lapang, hendak shalat Idul Fitri. Di pojok jalan, nabi melihat ada anak kecil duduk seorang diri. Raut mukanya bersedih.
Nabi mendekati, dan bertanya, mengapa bersedih. Dia mengaku, tidak punya orang tua. Nabi menawarkan, Maukah Muhammad jadi bapakmu, dan Aisyah sebagai ibumu? Anak tadi senang menyatakan mau.
Ayo mandi di rumah sana, dan minta pakaian kepada ibumu. Anak tadi lari sambil berkata, Rasulullah bapakku, dan Sayyidah Aisyah ibuku, ujarnya.
Apa yang dilakukan nabi adalah contoh bahwa di hatinya bertabur kasih sayang. Barang siapa tidak punya kasih sayang di hatinya, dia tidak dikasihsayangi oleh Allah, ujar nabi.
Perlu kita tanyakan, siapakah di antara kita yang di hatinya tidak tergerak melihat anak yatim, fakir miskin, dan orang terlantar? Jangan-jangan di hatinya hampa kasih sayang. Orang yang demikian ini menurut nabi, tidak akan bisa berbuat adil.
Apalagi adil kepada yang lain. Misalnya, adil kepada Allah. Caranya? Jadilah orang yang pandai bersyukur yang benar, yaitu mendekat kepada Allah dengan posisi yang sedekat-dekatnya.
Perbanyak ibadah. Jadi, orang adil kepada Allah pasti ahli ibadah, ahli fikir, dan ahli zikir dan ahli amal. Itulah insan kamil.
*
Sahabat Ali bin Abi Tholib punya pengalaman manis. Suatu ketika, dalam suatu peperangan melawan orang kafir, Ali berhasil melumpuhkan anak muda.
Tinggal hitungan waktu –kalau mau –Ali bisa menikamnya sehingga tewas di tangan Ali.
Tiba-tiba anak muda tadi meludahi wajah Ali sehingga tersinggung. Dia merasa harga dirinya dilecehkan.
Jika semula akan membunuh karena pertimbangan keyakinan agama, setelah diludahi wajahnya, motivasinya menjadi lain, karena terdorong emosi pribadi. Dan, Ali pun mengurungkan niatnya.
Ali menaruh rasa kasihan jika harus membunuh anak muda itu gara-gara tersulut emosi, bukan karena niat membela agama.
Selain dirinya tidak mendapat pahala perjuangan, nyawa anak muda tadi hilang sia-sia. Rasa kasihan Ali membawa keselamatan bagi anak muda tadi.
Rasa kasihan perlu dikembangkan. Baik kasihan kepada anak, keluarga, tetangga, masyarakat dan bangsa.
Kalau bukan karena kasihan kepada bangsa, Prof. DR HAMKA marah besar kepada aparat penegak hukum yang menuding dirinya sebagai pengkhianat bangsa.
HAMKA menilai ucapan itu karena yang bersangkutan tidak tahu apa yang sudah diperjuangkan sebagai tokoh agama dan bagaimana pengorbanan selama ini untuk bangsanya.
Seorang ibu, langsung tersenyum setelah berjuang mati-matian ketika hendak melahirkan anaknya. Senyum mengembang setelah mendengar anaknya menangis tanda anaknya hidup.
Perjuangan menyelamatkan anaknya membawa hasil. Kasih sayangnya mengalahkan rasa sakit saat melahirkan. (*)
Penulis, Suharyo AP, pemerhati masalah sepele.







