TROBOS.CO | Dalam kehidupan modern yang serba cepat sibuk dan nyaman namun dibaliknya membuat manusia gampang emosi tegang dan tanpa kasihan pada sesama ditengah kondisi lingkungan dengan pencemaran udara dan kebisingan yang sering melebihi ambang batas standar yang diizinkan.
Perasaan cemas dan serakah ego yang tinggi ini perlu dikendorkan dikembalikan normal agar tidak mudah sakit bahkan sulit disembuhkan yang melanda pada tubuh dan jiwanya
Mari mengambil iktibar untuk meniru dari berguru kepada kitab suci.
Tersebut dalam QS Al Kahfi: 9–14 yg menceritakan kisah beberapa pemuda dan anjingnya yang berlindung dalam gua dalam menghindar dari penguasa yang dzalim.
Uniknya gua adalah sesuatu mengandung keajaiban sebagai diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Selanjutnya para pemuda yang teguh imannya, bertauhid murni memohon rakhmat Allah
Atas kehendakNya mereka ditutup pendengarannya dan tidur selama beberapa tahun.
Kita mengkaji contoh makna berlindung dalam gua sebagai sarana meningkatkan spiritual dan kesehatan.
1. Gua adalah tempat yang minim dari pencemaran baik pencemaran udara kotor yang merusak pernapasan serta pengaruh kebisingan. Gangguan suara berlebihan pada pendengaran dapat merusak otak dan bekerjanya jantungDg udara sejuk dan penerangan alami yg cukup maka didapat perasaan aman dan nyaman.
2. Dengan juga dilakukan berlindung di tempat sepi atau kamar khusus yang diberi peredam akustik pada dinding maka didapat tempat dengan tingkat tanpa pencemaran sebagai sarana pendukung mempercepat mendapatkan suasana keheningan dalam munajat kepada Allah. Disinilah dimaksud dengan seizin Allah terjadinya keajaiban.
3. Efek yang didapat dari kesenyapan ruang dan disertai prilaku diam, mengatur nafas serta berdzikir kepada Allah berakibat sel-sel tubuh tidak mudah rusak, detak jantung melambat sehingga peredaran darah lancar disertai tekanan dalam batas yang dapat ditoleransi tidak merusak organ lain.
Namun sebaliknya bila pikiran dan perasaan dalam keadaan bingung, cemas disertai keinginan khawatir tak terpenuhi maka tekanan darah menjadi tinggi dan aliran darah bisa kacau dan sel berprilaku liar tak terkendali yang berakibat menjadi penyakit ringan maupun berat yang sulit disembuhkan.
4. Dengan bertindak “paham akan diam” yang diawali dengan proses pensucian dengan mandi dan berwudlu disertai puasa menahan makan minum disertai dengan puasa batin.
Adapun puasa batin dimaksud yaitu dengan menahan nafsu meredam dari :
– keserakahan , agresif , marah
– merasa kliru , getun, dan ingkar
– sombong, bermegahan dan gila pujian
– kalau ketiga nafsu tersebut bisa dieleminir dijauhkan maka sampailah pada nafsu yang tenang , ridho berserah diri.
– Disertai dzikir dan tafakur maka akan didapat intuisi tinggi suatu tingkat kesadaran kepada memahami hikmah hakekatnya ilmu
Dalam teori prilaku otak maka kondisi ini berada pada gelombang theta yaitu masuk suasana khusyuk yang sangat mendalam yang dapat juga diartikan dalam neurosains berada pada proses penyembuhan diri.
5. Apabila prilaku keheningan dan mengingat Tuhan ini dilanjutkan maka sampailah pada kondisi gelombang delta yaitu suatu kondisi tanpa pikiran dan perasaan artinya tanpa keinginan dan angan-angan dan yang ada ialah ingatan hanya kepada Allah. Lailaha ilallah tiada Tuhan selain Allah tempat berlindung dan memohon.
Suatu yg dimaksud dengan fana mati sebelum mati. Dalam getaran gelombang otak pada kondisi ini terjadi proses recovery cell suatu proses perbaikan sel yang rusak
Maka tak heran seseorang yang bisa sampai tahap ini wajahnya kelihatan bersinar dan awet muda karena sel yg diganti dg yang baru terus menerus
Inilah proses mendaki tangga pencerahan suatu upaya untuk meningkatkan keimanan yang sejalan dengan mendapatkan kesehatan menuju kebahagiaan abadi. (*)
*Penulis Ir Widodo Djaelani tinggal di Griya Mangli Jember *







