Hidup di Bawah Bayangan Semeru: Pilih Lahan Subur yang Berbahaya atau Hidup Aman yang Sulit?

TROBOS.CO | LUMAJANG – Bagi ribuan warga di Kecamatan Pronojiwo, Candipuro, dan Pasirian, Gunung Semeru bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia memberikan kehidupan melalui lahan subur dan pasir melimpah. Di sisi lain, ia mengancam nyawa kapan saja.

Ketika Semeru tenang, warga sibuk bertani kopi, tebu, dan padi di tanah yang subur, atau menjadi penambang pasir di aliran sungai dekat rumah. Hasilnya cukup untuk menyambung hidup dan membangun rumah. Namun, ketika Semeru “marah”, semua yang diperjuangkan bisa ludes seketika, bahkan nyawa menjadi taruhannya.

banner 1280x716

Buktinya terlihat jelas di sepanjang jalan Candipuro menuju Pronojiwo. Banyak rumah warga terpendam pasir setinggi atap dan dibiarkan mangkrak. Pasir luapan Sungai Rejali yang mengalir tak jauh dari permukiman menjadi ancaman laten. Saat banjir datang, lahan, rumah, dan kebun warga menjadi korban.

Salah satu penanganan penyintas erupsi Semeru dilakukan lazismu Lumajang.

Untuk mencegah korban jiwa, pemerintah membangun huntap (hunian tetap) di Desa Sumber Mujur, Candipuro, di atas lahan Perhutani. Di sini, warga bisa hidup tenang, jauh dari ancaman lahar.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pelan-pelan, warga terdesak kebutuhan hidup. Lahan pekerjaan lama—ladang, kebun, dan tambang pasir—di desa yang mereka tinggalkan terus memanggil. Banyak warga akhirnya memilih kembali, meski harus menghadapi bahaya.

“Sikap hidup wira-wiri ini dirasa melelahkan,” ujar seorang warga, menggambarkan rutinitas mereka yang kadang pulang pergi antara huntap dan lahan kerja lama.

Pemerintah pun hanya bisa menghimbau. Di lapangan, realita berkata lain: untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus kembali bekerja di ladang mereka semula.

Sampai kapan mereka akan terus hidup dalam bayang-bayang bahaya? Tidak ada jawaban pasti. Dilema ini adalah pertaruhan antara memilih keselamatan yang aman namun sulit secara ekonomi, atau penghidupan yang lancar namun penuh risiko. Di lereng Semeru, pilihan hidup seringkali bukan antara yang baik dan buruk, melainkan antara yang sulit dan yang mustahil.

Suharyo/TROBOS.CO

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *