TROBOS.CO, LUMAJANG – Duka mendalam menyelimuti anak-anak di Desa Supit Urang, Pronojiwo, pasca erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025. Sekolah mereka, SDN Supit Urang 02, rata dengan tanah bersama 200 rumah warga. Di antara korban adalah Rafa, siswa kelas 4 yang kini harus mengungsi dan kehilangan tempat bermain serta belajar.
“Kalau malam ngungsi di rumah saudaranya di Sumber Bulus, kalau siang berada di pos pengungsian,” cerita salah seorang relawan mengenai kondisi Rafa yang mewakili ratusan anak lainnya yang mengalami trauma.
Kini, sekitar 200 siswa dari SDN Supit Urang 02 terpaksa belajar bergabung dengan SDN Supit Urang 01. Di tengah kepiluan itu, tawa dan keceriaan berusaha dihadirkan kembali oleh para relawan.

Merespons kondisi tersebut, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lumajang mengerahkan tim relawan psikososial. Mereka berasal dari berbagai elemen, termasuk Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Lazismu, dan MDMC.
“Kami terpanggil melihat anak-anak yang mengalami trauma. Ada yang matanya sembab terus menangisi rumahnya yang hancur. Setiap dengar Semeru ‘batuk’ saja, mereka sudah ketakutan,” tutur Diah Nurfitriah dari PD Nasyiatul Aisyiyah Lumajang.
Dia menceritakan satu kejadian mengharukan, di mana seorang anak lari tak tentu arah saat ditinggal orang tuanya yang kembali ke bekas rumahnya. “Dia ketemu jauh di jalan raya, mungkin karena takut,” ujarnya.

Tim Relawan Psikososial yang Turun Langsung:
- Diah Nurfitriah (PD Nasyiatul Aisyiyah Lumajang)
- Sabila Fandyta Putri
- Novianti Nia Kartika Putri
- Nasyiatul Aisyah Wahyu Ananda Wahid
- Risma Oktaviana
- Melati Umairoh
- Devin Zakiatul Mazidah
- Safira Syahida
- Fajar Sidik
- Rawi Arfianto
Kesepuluh relawan ini bahu-membahu menciptakan suasana bahagia bagi anak-anak korban erupsi. Melalui berbagai permainan dan kegiatan menyenangkan, mereka berupaya mengikis trauma dan mengembalikan semangat anak-anak.
Usaha itu tidak sia-sia. Beberapa anak mulai terlihat ceria dan bahkan meminta para relawan untuk tidak pulang. Meski sederhana, pendampingan ini menjadi penanda bahwa pemulihan jiwa anak-anak adalah langkah penting menuju normalitas baru pasca-bencana.
Suharyo/TROBOS.CO









