Penyempurnaan Jiwa: Dari Penyucian Menuju Keberuntungan

TROBOS.CO | Kesulitan hidup, tekanan ekonomi, dan berbagai persoalan keseharian sering kali membuat seseorang stres, cemas, dan kehilangan arah. Jika berlarut-larut, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kejiwaan dan ketidakstabilan emosi.

Lalu bagaimana cara agar jiwa tetap mantap, sehat, dan bahagia di tengah ujian hidup? Al-Qur’an memberikan petunjuk melalui firman Allah dalam QS Asy-Syams: 7–10:

banner 1280x716

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Ayat ini menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga berakar dari kebersihan batin. Proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) berarti membersihkan diri dari sifat-sifat negatif yang dapat merusak ketenangan hati.

Beberapa langkah dalam penyucian jiwa antara lain:

  • Membersihkan penyakit batin seperti sombong, iri, marah, dan serakah.
  • Menumbuhkan sifat-sifat mulia seperti sabar, syukur, kasih sayang, dan ikhlas.
  • Menundukkan hawa nafsu melalui puasa.
  • Mengikis keserakahan dengan sedekah, infak, dan zakat.
  • Menenangkan hati dengan memperbanyak salat, zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Penyucian jiwa membawa seseorang menuju ketaqwaan, yaitu kehidupan yang berjalan sesuai petunjuk Allah di jalan lurus. Sebaliknya, mereka yang menuruti hawa nafsu dan menjauh dari petunjuk-Nya termasuk golongan yang merugi.

Keberuntungan yang dimaksud bukan hanya keberhasilan materi, tetapi kemenangan spiritual: ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan keselamatan abadi.
Penyempurnaan hidup berarti mengubah kenikmatan duniawi yang sementara menjadi kenikmatan abadi.
Sedangkan penyempurnaan mati adalah meninggalkan nafsu amarah menuju nafsu mutmainnah, yaitu jiwa tenang yang dipanggil Allah dalam ridha dan kasih-Nya.

Dalam psikologi modern, konsep self-regulation dan emotional intelligence sangat sejalan dengan ajaran tazkiyah an-nafs. Individu yang mampu mengenali dan mengendalikan emosinya terbukti lebih sehat mental dan stabil secara sosial.

Dari sisi neurosains, praktik doa, meditasi, dan refleksi diri meningkatkan aktivitas di bagian otak prefrontal cortex—pusat pengambilan keputusan, empati, dan kontrol diri. Kondisi ini memperkuat ketenangan batin dan kejernihan pikiran.

Bahkan studi epigenetika menunjukkan bahwa pikiran positif dan perilaku baik dapat memengaruhi ekspresi gen serta sistem imun tubuh.

Dengan demikian, penyempurnaan jiwa bukan hanya konsep spiritual, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang kuat. Inilah pondasi menuju keberuntungan sejati—kebahagiaan yang lahir dari jiwa yang bersih dan hati yang damai. (*)

Penulis: Ir. Widodo Djaelani, tinggal di Perumahan Mangli, Jember.

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *