Fenomena Nikah Antar Bangsa: Kisah Pernikahan Global yang Semakin Marak di Lumajang

TROBOS.CO – LUMAJANG | Pernikahan adalah hal lumrah dalam kehidupan sosial. Namun menjadi menarik ketika pasangan yang bersatu berasal dari lintas negara. Belakangan, fenomena “nikah global” ini semakin sering terjadi dan menyita perhatian masyarakat.

Banyak pria dari berbagai negara seperti Pakistan, Inggris, hingga Jerman yang menikahi wanita Indonesia dengan tata cara Islam. Ada pula pasangan sesama warga Indonesia, namun menggunakan mahar yang tak biasa — berupa uang dolar Amerika Serikat.

banner 1280x716

Fenomena ini menandai pergeseran tren pernikahan yang semakin terbuka dan global. Di Lumajang sendiri, beberapa kasus unik mulai muncul. Salah satunya terjadi di Masjid At-Taqwa, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (25/10).

Dalam akad tersebut, Saffira Allaida, putri pasangan Eltaf Husein ST dan Farid Ismayanti, dinikahi oleh Muhammad Gusdiyanto SE, putra pasangan H. Suwanto dan Hj. Umi Kulsum dari Bondowoso. Meski keduanya sama-sama berasal dari Indonesia, mahar yang digunakan berupa uang dolar AS.

Kepala KUA Kecamatan Tempeh sempat dibuat penasaran. Saat menanyakan jumlah mahar, mempelai pria menjawab dengan menyebut “dollar”, yang membuat para tamu undangan terkejut sekaligus penasaran. “Saya tidak terbiasa menggunakan uang dolar,” ungkap Saffira sambil tersenyum.

Fenomena serupa juga terjadi sebelumnya di Masjid Agung KH Anas Mahfudz, Lumajang. Mempelai pria berasal dari Inggris, sehingga khutbah dan tausiyah akad harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Pihak keluarga mempelai putri bahkan mengundang seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Jember untuk memberikan tausiyah.

Kisah lain datang dari Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, di mana seorang pria asal Pakistan menikahi wanita setempat. Kepala KUA, Ustadz Yusuf Wibisono, terpaksa mengakadkan dengan campuran bahasa Indonesia dan Inggris karena kendala komunikasi. “Akhirnya ya pakai bahasa gado-gado,” ujarnya sambil tertawa.

Masih dari keluarga yang sama, Nisrina Salsabila Ayunda atau yang akrab disapa Bunga, putri Priyo Widodo dan Yuli Harisma Wati, menikah dengan Clydeo Adji Pangestu — pria kelahiran Inggris yang besar di Surabaya. Perbedaan latar belakang justru membuat keduanya terbiasa hidup dengan perpaduan dua budaya.

Fenomena “nikah global” ini menjadi cerminan bagaimana masyarakat Indonesia kini semakin terbuka terhadap pernikahan lintas budaya dan bahasa. Tak hanya memperkaya nilai sosial, tetapi juga menjadi warna baru dalam perjalanan kehidupan berumah tangga. (*)

Kontributor/Redaktur: TROBOS.CO

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *