Lutfiyah Hamid, Qoriah Legendaris Asal Lumajang yang Ukir Sejarah di MTQ Jawa Timur

TROBOS.CO – LUMAJANG | Nama Lutfiyah Hamid, qoriah legendaris asal Lumajang, sudah dikenal luas di kalangan pecinta seni baca Al-Qur’an sejak pertengahan tahun 1960-an. Popularitasnya semakin meningkat ketika ia berhasil meraih juara pertama MTQ Jawa Timur tahun 1973, dan mewakili provinsi tersebut pada MTQ Nasional ke-6 di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Aktivitas qiroah Lutfiyah dimulai sejak remaja. Ia kerap menjuarai berbagai lomba MTQ tingkat lokal maupun regional. Namun, puncak prestasinya terjadi pada MTQ Jatim 1973 ketika ia keluar sebagai juara pertama.
“Biasanya saya hanya juara dua atau tiga,” ujarnya saat ditemui TROBOS.CO di kediamannya, Jalan Kyai Ghozali Timur, Lumajang.

banner 1280x716
Lutfiyah Hamid saat melantunkan ayat suci Al-Qur’an dalam sebuah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), menampilkan keteduhan suara dan ketekunan seorang qoriah legendaris asal Lumajang.

Kemenangan Lutfiyah sempat menggemparkan Lumajang, sebab baru kali itu ada peserta dari daerah tersebut yang menjuarai MTQ tingkat provinsi untuk golongan dewasa. Ia berhasil mengungguli pesaing tangguh seperti Chotijah dari Surabaya dan Musrifah Tohir dari Banyuwangi. Sementara itu, di golongan remaja, nama Mariah Ulfa (yang kini bergelar doktor dan mengajar di PTIQ Jakarta) menjadi andalan.

Sejak kecil, Lutfiyah dikenal lincah dan cerdas. Putri pasangan H. Hamid dan Hj. Hamidah ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan. Selain pandai membaca Al-Qur’an, ia juga menggemari musik gambus (samroh) dan aktif di organisasi pelajar putri IPPNU. Bersama Ustad Nafik dan Ustad Masyfii, ia belajar qiroah kepada Ustad Nawawi Qodir, yang menjadi salah satu guru utamanya.

Setelah lulus dari PGA Islam (Aliyah Wachid Hasyim) tahun 1964, Lutfiyah melanjutkan pendidikan ke IAIN Persiapan Jember. Meski awalnya tidak menonjol dalam seni qiroah di kampus, bakatnya ditemukan secara tak sengaja ketika ia diminta membaca Al-Qur’an dalam sebuah acara pengajian. Suaranya yang merdu membuat para jamaah kagum, dan sejak itu ia sering diundang untuk tampil di berbagai acara keagamaan.

Selama kuliah, ia tinggal di Pondok Pesantren Kyai Abdul Chalim Siddiq Puteri (ASRI), Talangsari, dan turut membimbing santri-santri dalam seni qiroah.

Tahun 1973 menjadi momentum bersejarah. Lutfiyah berhasil menjadi juara pertama MTQ Jawa Timur golongan dewasa, mengalahkan perwakilan dari berbagai kabupaten besar seperti Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Banyuwangi, dan Surabaya.
Kemenangan ini membuat gurunya, Ustad Nawawi Qodir, merasa sangat bangga hingga langsung melapor ke Bupati Soewandi untuk memberikan apresiasi dan dukungan menjelang keikutsertaan Lutfiyah di MTQ Nasional ke-6 di Mataram.

Meski belum berhasil membawa pulang gelar nasional, Lutfiyah tampil terhormat di ajang tersebut. “Saya belum mengenal jenis lagu yang ditentukan dewan hakim waktu itu,” kenangnya dengan rendah hati.

Setelah itu, Lutfiyah mulai mengurangi aktivitas qiroahnya. Pada tahun 1983, ia diangkat menjadi guru agama (PNS) di SMEA Lumajang dan mengabdi hingga pensiun pada tahun 2009.

Kini, di usia yang hampir menginjak 90 tahun, Lutfiyah masih aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Ia memimpin yayasan pendidikan dan pengajian ibu-ibu, serta rutin mengadakan khitanan massal dua tahun sekali.
“Alhamdulillah, hingga usia hampir 90 tahun saya masih bisa beraktivitas sosial,” ucapnya dengan senyum teduh. (*)

Shodiq Syarief/Trobos.co

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *