TROBOS.CO – LUMAJANG | Penampilannya kalem, wajah rupawan, kulit kuning langsat, dan suara bening merdu.
Itulah sosok Ustad KH Nawawi Abdul Qadir (1925–1989) — salah satu “pahlawan qiroah” dari Lumajang yang dikenal luas karena kepiawaiannya dalam seni baca Al-Qur’an.
Sejak usia muda, Ustad Nawawi Qodir sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam qiroah atau tilawah Al-Qur’an. Di Lumajang sendiri dikenal tiga tokoh bernama Nawawi: Ustad Nawawi Qodir, Ustad Nawawi Kuniti (keduanya qori), dan Ustad Nawawi Rasyad (guru agama senior sekaligus kakak iparnya). Namun, nama Ustad Nawawi Qodir menjadi yang paling masyhur berkat keahliannya dalam seni baca Al-Qur’an.
Putra keempat dari enam bersaudara — KH Said, KH Ridwan, KH Bisri, KH Nursalim, dan KH Abdurohim — ini sejak kecil sudah dititipkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan langsung Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Selama di pondok, beliau kerap diajak berdakwah keliling oleh KH Hasyim maupun KH Wahid Hasyim sebagai pembaca qiroah. Suaranya yang merdu menjadikannya andalan dalam berbagai majelis.
Perjalanan Dakwah dan Pengabdian
Sekitar tahun 1970-an, Ustad Nawawi sering mengunjungi Pulosari, Citrodiwangsan, untuk mengajar qiroah di Madrasah Miftahul Ulum. Ia dikenal sebagai guru yang sabar dan tekun, bahkan sering mengajar pagi dan sore. Salah satu pelajaran yang diingat murid-muridnya adalah surat Al-Hasyr ayat-ayat terakhir, yang dibaca dengan lagu khas Syeikh Abdul Basith dan Syeikh Shodiq Al-Minsyawi — qori ternama asal Mesir.
Beliau belajar qiroah dari KH Abdul Chalim Siddiq (Jember), putra ulama besar KH Siddiq dari Lasem, Rembang. Dari gurunya inilah, Ustad Nawawi mewarisi semangat dakwah dan dedikasi dalam melatih generasi muda pecinta Al-Qur’an.
Tahun 1972–1975, beliau menjadi guru di Madrasah Muallimin dan membina kegiatan Jam’iyatul Qurra wal Huffadz (Jamqur) yang berpusat di Madrasah Nurul Islam. Ustad Nawawi menjadi guru tilawah senior sekaligus ketua Jamqur Lumajang. Setiap Sabtu malam, beliau rutin mengajak murid-muridnya berlatih qiroah bersama.
Keteladanan dan Peran di Dunia Qiroah
Selain sebagai guru tilawah, Ustad Nawawi Qodir juga merupakan guru agama PNS di Departemen Agama Lumajang. Sehari-hari, beliau dikenal sederhana, mengajar ke berbagai tempat dengan sepeda onthel.
Kecintaannya pada ilmu tidak hanya berhenti di teknik membaca, tetapi juga pemahaman makna ayat. Di sela mengajar, beliau sering menjelaskan tafsir ayat yang dibacakan — menjadikan pelajaran qiroah lebih hidup dan bermakna.
Di lingkungan Kandepag Lumajang, beliau sangat disegani. Walau bukan pejabat tinggi, perannya sebagai Kasi Penerangan Agama Islam sangat penting. Dalam setiap ajang MTQ tingkat kabupaten, beliau selalu menjadi pembina utama, bahkan mendatangkan pelatih dari Surabaya dan Malang seperti Ustad Damanhuri dan Ustad Bashori Alwy.
Prestasi dan Warisan Spiritual
Di bawah pembinaannya, Lumajang mulai menorehkan prestasi di ajang MTQ. Tahun 1973, qoriah asal Lumajang Lutfiyah Hamid, yang merupakan tetangga Ustad Nawawi, berhasil menjadi Juara I MTQ Jawa Timur Golongan Dewasa Putri, dan mewakili provinsi ke MTQ Nasional di Mataram, NTB.
Saking bangganya, Ustad Nawawi langsung melaporkan prestasi itu kepada Bupati Suwandi, yang kemudian menghadiahkan ibadah haji kepada Lutfiyah.
Semangat beliau dalam membina qori dan qoriah tidak pernah surut. Hampir semua qori era 1960–1980-an mengenal dan merasakan sentuhan pembinaannya. Dedikasi dan loyalitasnya terhadap seni baca Al-Qur’an membuatnya dikenang sebagai tokoh qiroah legendaris Lumajang.
Dari pernikahannya dengan Ibu Hannah (1949), beliau dikaruniai empat anak: Athoillah, Siti Umroh, Wiwik (Faizatul Widad), dan Abdul Muiz. Dua di antaranya — Wiwik dan Muiz — mewarisi bakat ayahnya. Keduanya berkali-kali menjadi juara MTQ tingkat Lumajang, bahkan Abdul Muiz menorehkan prestasi di tingkat Jawa Timur hingga nasional.
Shodiq Syarif | TROBOS.CO









