Khitan Massal BAZNAS Senduro: 3 Mundur, 1 Pingsan karena Sayang

banner 2560316

TROBOS.CO | Khitan massal BAZNAS Kabupaten Lumajang di Kecamatan Senduro, Kamis, 25 Juni 2026, menyisakan cerita yang tidak akan mudah dilupakan oleh siapa pun yang hadir. Bukan karena ada yang salah justru karena ada yang terlalu sayang.

Dari 20 anak yang terdaftar sebagai peserta, 3 di antaranya mengundurkan diri sebelum giliran tiba. Alasannya sederhana: takut. Tapi cerita paling mengharukan datang bukan dari peserta khitan, melainkan dari seseorang yang menonton.

Hafiza (17 tahun), warga Dusun Gempol, Desa Pandansari, datang menemani adiknya, Ahmad Maulana (6 tahun), yang terdaftar sebagai peserta khitan dari Desa Pandansari. Ia duduk di samping adiknya, menemani proses berlangsung.

Tiba-tiba tubuhnya lemas. Lalu roboh.

“Tiba-tiba roboh. Mungkin dia tak tega melihat adiknya disunat,” cerita dr. Mala, Kepala Puskesmas Senduro, yang mendampingi seluruh proses khitan massal hari itu.

Hafiza langsung digotong ke kursi di ruang tamu dan mendapat pertolongan pertama tangan dan kakinya dipijat oleh tim medis yang sigap. Beberapa menit kemudian, ia sadar. Sementara di ruangan sebelah, proses khitan adiknya terus berjalan.

Di luar drama Hafiza, suasana di kantor Kecamatan Senduro hari itu berjalan seperti khitan massal pada umumnya lengkap dengan jerit tangis yang sesekali terdengar ketika jarum suntik menyentuh kulit.

“Ada yang nangis, ada yang tidak. Namanya juga anak-anak,” imbuh dr. Mala santai.

Soal berapa lama satu anak bisa selesai dikhitan, dokter perempuan itu tidak bisa memberi angka pasti. Semua tergantung pada satu hal: keberanian si anak. “Kalau banyak yang tidak rewel, ya cepat,” ungkapnya.

Terbukti, 17 anak yang akhirnya jadi dikhitan tuntas dalam waktu sekitar dua jam mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Hitungan yang cukup efisien untuk jumlah peserta sebanyak itu.

Khitan massal di Senduro adalah titik terakhir dari rangkaian panjang selama dua hari. Amil BAZNAS Lumajang, Imron Rosadi, yang ikut memantau pelaksanaan dari kecamatan ke kecamatan mengungkapkan rasa syukurnya.

“Selama dua hari kami bergantian memantau pelaksanaan khitan di tiap kecamatan dan puskesmas. Hari ini terakhir. Alhamdulillah semuanya lancar,” katanya.

Dari Gucialit yang kursinya separuh kosong karena adat selamatan, hingga Senduro yang diramaikan oleh seorang kakak yang roboh karena rasa sayangnya khitan massal BAZNAS Lumajang tahun ini menutup dua harinya dengan cerita yang jauh lebih kaya dari sekadar angka dan laporan.

Lukman Hakim

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *