TROBOS.CO | Penasihat PDM Lumajang, H. Suharyo AP, SH , menghimbau warga persyarikatan untuk membentuk pribadi unggul.
Hal itu disampaikan pada acara halal bihalal dan tadabbur alam mandiri warga Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ortom di Pantai Selatan Mbah Drajit, Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Ahad (19/4/2026).
Pribadi unggul yang dimaksud mengacu pada Surat Ali Imran ayat 17. Dalam ayat tersebut ada lima istilah penting yang harus diwujudkan.
Pertama, menjadi orang sabar. Yaitu sabar dalam menjalankan perintah Allah, tidak menggerutu dan berat hati. Orang sabar justru senang hati dan bahagia ketika melaksanakan perintah Allah.
“Sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah. Ada orang yang sabar ketika menjalankan perintah Allah tetapi tidak sabar menjauhi larangan-larangan Allah,” jelasnya.
Sabar berikutnya ketika ada ujian, cobaan, dan tantangan. Sikap yang benar adalah tawakal kepada Allah. Kita sadari apa yang Allah tetapkan itulah yang terbaik.
Kedua, bersikap jujur atau lurus. Kita jujur kepada Allah dan tidak gampang bengkok. Orang yang jujur pasti dipercaya oleh sesama manusia.
Ketiga, jadilah orang taat (qonitin). Orang taat yang sesungguhnya, sebagaimana Nabi Ibrahim, tidak pernah tawar-menawar terhadap perintah Allah. Meskipun berat seperti menyembelih Ismail putranya, juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Orang yang taat begitu mendengar perintah Allah langsung melaksanakannya.
Keempat, menjadi pribadi yang dermawan atau pinjam istilah Pak AR Fahruddin “nyah-nyoh”. Orang yang suka menolong pasti ditolong oleh Allah.
Kelima, menjadi orang yang suka beristighfar di waktu sahur – artinya di keheningan malam beristighfar atas salah, khilaf, dan dosa.
“Lima karakter itu kalau kita miliki dengan baik, maka kita akan menjadi hamba Allah yang dicintai,” ujar Suharyo.
Sebagai tadabbur alam, usai halal bihalal sebagian besar peserta menuju Laut Selatan yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari lokasi halal bihalal.
Kalau naik motor bisa langsung ke bibir laut. Jalan yang dulu susah dilewati karena berpasir, sekarang sudah dipasang paving dan di atasnya diberi paranet sehingga tidak terasa panas.
Wisatawan menikmati indahnya Laut Selatan dan menikmati aneka makanan (kuliner) yang dijual warga di sepanjang pantai. Sementara anak-anak berenang di kolam renang air tawar yang dibuat secara personal oleh pemilik warung.
Pantai Wotgalih sekarang benar-benar beda. Kalau dulu harus turun ke sungai sebelum sampai di laut, sekarang cukup lewat jembatan yang dibuat swadaya oleh masyarakat setempat.
Justru menyeberang sungai dilarang karena dikhawatirkan ada buaya. Sejumlah pengumuman dipasang tentang himbauan berhati-hati terhadap ancaman buaya.
Di sisi lain, pengelolaan Pantai Selatan telah mendatangkan income bagi desa karena banyak wisatawan berdatangan. Bahkan banyak kegiatan seperti upacara, peringatan hari besar agama, dan sebagainya.
Tim Trobos.co









