TROBOS.CO | Sering kali, sebuah nama hanya melahirkan bayangan. Namun kenyataan terkadang berbicara jauh lebih lantang daripada apa yang dibayangkan.
Kesan itulah yang dirasakan Prof. Dr. Fahd bin Mohana Salim Al Ahmadi, akademisi Universitas Islam Madinah, saat melaksanakan Visitasi Program Mu’adalah dan menjadi narasumber Daurah Ilmiah di Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto, Kamis (30/7/2026).
Sebelum berkunjung, beliau membayangkan eLKISI hanyalah sebuah pesantren kecil di Mojokerto. Namun setelah menyaksikan langsung lingkungan pesantren, ruang-ruang pembelajaran, Markaz Lughah, serta semangat para santri dalam menuntut ilmu, kesan itu berubah menjadi rasa kagum.
“Sebelum melihat langsung, saya mengira eLKISI adalah sebuah pesantren kecil. Namun setelah datang dan melihat sendiri, saya terkejut. Ini adalah pesantren yang besar, tertata dengan baik, dan memiliki potensi besar dalam melahirkan generasi ulama.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar eLKISI. Sebab, apresiasi tersebut datang dari seorang akademisi yang selama bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan tinggi Islam dan menyaksikan langsung berbagai lembaga pendidikan di berbagai negara.
Visitasi tersebut merupakan bagian dari Program Mu’adalah antara Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI dengan Universitas Islam Madinah. Bagi eLKISI, program ini bukan sekadar bentuk pengakuan akademik, tetapi sebuah jembatan yang membuka peluang bagi para santri untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Madinah serta berbagai perguruan tinggi Islam di Arab Saudi dan negara-negara Islam lainnya.
Selama berada di lingkungan pesantren, Prof. Dr. Fahd didampingi Pengasuh eLKISI Dr. KH. Fathur Rohman, bersama Ust. Ainur Rofiq, M.Pd.I., Dr. Hairul Warizin, S.E., M.M., serta jajaran pengurus. Beliau mengunjungi ruang-ruang pembelajaran, berdialog dengan para guru, serta meninjau Markaz Lughah eLKISI, yang menjadi pusat pembinaan kemampuan bahasa Arab para santri.
Di hadapan para santri, beliau menyampaikan pesan yang sederhana tetapi sangat mendalam.
“Kuasailah bahasa Arab, jagalah hafalan Al-Qur’an, pelajari hadis Rasulullah ﷺ, dan latih kemampuan berdakwah. Dengan bekal itu, insya Allah kalian akan mampu melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah dan menjadi orang-orang yang membawa manfaat bagi umat.”
Pesan itu seakan menemukan buktinya saat beliau menguji langsung dua santri Program Kader Ulama eLKISI.
M. Asyaddu Hubbalillah, santri kelas XII, diminta memperdengarkan hafalan 500 hadis Shahih Bukhari. Sementara Ainish Shofa menunjukkan kemantapan hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Beberapa kali Prof. Dr. Fahd menghentikan ujiannya sejenak. Dengan wajah penuh kebahagiaan beliau spontan mengucapkan,
“Masya Allah… Tabarakallah…”
Ucapan itu berulang kali terdengar di hadapan para santri dan asatidz. Bukan sekadar ungkapan kekaguman, tetapi penghargaan atas kesungguhan menjaga Al-Qur’an dan warisan hadis Rasulullah ﷺ.
Sebagai bentuk apresiasi, beliau menyerahkan piagam penghargaan kepada kedua santri tersebut.
Namun sejatinya, yang mendapat penghargaan hari itu bukan hanya dua orang santri.
Yang diapresiasi adalah semangat sebuah pesantren yang terus menjaga tradisi ilmu. Yang dihargai adalah para guru yang sabar membimbing. Yang dimuliakan adalah para orang tua yang rela menitipkan anak-anaknya untuk dididik menjadi pewaris ilmu para nabi.
Pengasuh Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI, Dr. KH. Fathur Rohman, menegaskan bahwa Program Mu’adalah merupakan bagian dari visi besar pesantren dalam membangun generasi ulama berkelas dunia.
“Kami ingin membuka jalan selebar-lebarnya bagi para santri untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Madinah, Al-Azhar Mesir, serta berbagai universitas di dunia Islam. Namun yang lebih penting dari itu, kami ingin mereka kembali sebagai ulama yang mengabdi kepada umat, menjaga akhlak, dan membangun peradaban.”
Visitasi itu pun berakhir dengan silaturahmi dan foto bersama. Namun sesungguhnya, yang selesai hanyalah rangkaian acaranya.
Harapan yang ditinggalkan justru baru dimulai
Di sebuah pesantren di Mojokerto, mimpi-mimpi besar sedang dipersiapkan. Bukan mimpi tentang popularitas, bukan pula sekadar mengejar gelar. Melainkan mimpi melahirkan generasi yang menghafal Kalamullah, menjaga Sunnah Rasulullah ﷺ, menguasai bahasa Arab, lalu kembali menjadi cahaya bagi umat. Karena sejatinya, peradaban besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil tempat ilmu diajarkan dengan ikhlas dan diamalkan dengan penuh amanah.
Cak Muhid / Trobos.co










