Hidup Sekali, Jika Benar Lebih dari Cukup

banner 2560316

TROBOS.CO | Kita hanya hidup sekali di dunia ini. Namun, sekali itu bisa menjadi sangat berarti bahkan lebih dari cukup jika dijalani dengan cara yang benar.

Ketika manusia dilahirkan, ia menangis. Sementara orang-orang di sekelilingnya justru bergembira menyambut kehadirannya. Ada ironi yang sederhana di sana, tetapi menyimpan pelajaran mendalam: bahwa sejak awal, kehidupan selalu bergerak menuju akhir yang pasti.

Karena itu, hidup selayaknya dijalani sebaik mungkin. Bukan sekadar panjang usia yang menjadi ukuran, melainkan kualitas perjalanan yang ditempuh. Jika seseorang mampu hidup dengan benar, kematiannya pun bisa menjadi akhir yang baik ditangisi banyak orang, namun ia sendiri berada dalam ketenangan karena siap menghadap Sang Hakim dari segala hakim.

Orang seperti ini tidak akan menyesali hidupnya. Ia tidak termasuk golongan yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai mereka yang menyesal setelah kematian, hingga berharap diberi kesempatan kembali ke dunia hanya untuk berbuat baik dan beribadah. Penyesalan itu muncul karena kesempatan yang telah terlewat tak lagi bisa diulang.

Allah mengingatkan dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 agar setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok. Bekal terbaik menghadapi kehidupan setelah dunia adalah takwa kesadaran untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana diajarkan Rasulullah.

Mereka yang menjalani hidup dengan kesadaran itu sesungguhnya sedang menyiapkan kehidupan yang jauh lebih panjang dan kekal. Satu kali hidup di dunia, jika diisi dengan kebaikan dan ketakwaan, bisa menjadi cukup bahkan untuk meraih kebahagiaan abadi.

Bekerja dan beramal untuk hari esok bukan pilihan yang bisa ditunda-tunda. Semakin sungguh seseorang menata hidupnya, semakin besar pula harapan untuk memperoleh akhir yang baik husnul khatimah.

Sebaliknya, mereka yang mengabaikan kehidupan rohaninya akan mengalami “sakit” yang tak selalu tampak oleh mata. Jiwa yang tidak terawat, hati yang lalai, dan hidup tanpa bekal akan berujung pada kerugian yang sesungguhnya bukan hanya di dunia, melainkan jauh melampaui batas usia.

Semoga kita semua dijauhkan dari kerugian dunia dan akhirat, dan termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung karena mampu menjalani hidup dengan benar.

Suharyo, penulis yang memerhatikan persoalan-persoalan sederhana

banner 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *